Brand Sebagai Kekuatan Perusahaan Dalam Persaingan Global

Pendahuluan
Dinamika persaingan dalam situasi pasar yang hypercompetitive sehingga menciptakan berbagai macam produk yang ditawarkan kepada konsumen. Situasi ini akan mendorong suatu perubahan dalam era globalisasi yaitu terjadinya pergeseran paradigma dari transactional marketing menuju relationship marketing. Kegiatan pemasaran tidak lagi terfokus pada bagaimana terjadinya suatu transaksi, tetapi lebih mengarah kepada bagaimana menjalin hubungan dengan konsumen secara jangka panjang berulang dan berkesinambungan atau dengan kata lain bagaimana menanamkan loyalitas kepada konsumen.

Brand merupakan salah satu bentuk marketing image dalam membina hubungan dengan konsumen, melalui indikator sehingga dapat membedakan antara satu produk dengan produk yang lainnya. Brand juga merupakan indikator bagi konsumen agar mudah diingat sehingga membentuk rantai loyalitas bagi pelanggan.Tingkat loyalitas yang tinggi terhadap brand adalah salah satu aset yang sangat penting bagi produsen. Untuk mendobrak loyalitas produk pesaing memerlukan jurus yaitu bagaimana menyadarkan konsumen keluar dari image atau rutinitas konsumen yang telah terbentuk secara permanen sehingga konsumen bisa mengambil keputusan untuk memilih produk yang lain. Loyalitas terhadap suatu brand akan terbentuk jika konsumen merasa yakin bahwa brand pilihannya lebih berkualitas dari brand produk lain yang setara, namun produk lain telah melakukan diskon atau membanting harga
untuk menarik para konsumen. Untuk membidik hati konsumen , tentu harus
memahami hati konsumen tersebut. Memahami emosi dan perasaan konsumen terhadap brand dan produk merupakan hal yang sangat penting agar supaya konsumen memiliki perasaan yang baik (feel good) , sehingga menghasilkan pengalaman yang mengesankan (memorable experince) bagi konsumen.

Brand sering didefinisikan sebagai rangkaian huruf, angka, simbol atau konfigurasi warna sebagai indikator untuk membedakan antara satu produk dengan produk lainnya. Tiap Brand memiliki posisi tertentu dalam ingatan konsumen sehingga bukan lagi hanya berfungsi sebagai alat untuk membedakan sesuatu produk, tatapi diharapkan mempunyai nilai dibenak konsumen. Produsen sangat berkepentingan dengan brand identity sedang brand image adalah bagaimana kesan konsumen terhadapnya. Situasi tingkat kompetesi yang semakin ketat, sehingga memerlukan investasi untuk mengembangkan dan mempertahankan brand, karena brand mempunyai kekuatan dan aset perusahaan, sehingga kadangkala dibeli dan dihargai lebih tinggi dari nilai pasar dari perusahaan itu sendiri.

Menjual Brand Bukan Hanya Produk
Tindakan mengamankan brand yang sudah ada merupakan staretegi untuk
mempertahankan citra produk unggulan sebelumnya. Beberapa contoh brand produk yang menjadi kekuatan perusahaan dalam persaingan global sebagai berikut :
Intel sebagai perusahaan mikro prosesor cukup sukses dengan brand-nya yang memproduksi label angka 8086, 286, 386 dan 466. Intel menggalang perusahaan-perusahaan komputer seperti IBM, Compaq, Gateway dan Dell untuk memasang logo Intel Inside pada iklannya maupun kemasannya dengan imbalan komisi yang saling menguntungkan. Bila perusahaan komputer terkenal seperti IBM dan Compaq saja mempercayakan mikro prosesornya yang vital untuk sebuah produk komputer kepada Intel yang kualitasnya telah lulus uji, maka betapa besar pengaruh brand dan perceived quality produk dengan brand Intel.

Nokia, Brand yang satu ini nyaris identik dengan telepon genggam (handphone). Dengan penguasaan pasar di seluruh dunia mencapai 39 persen, Nokia juga sekaligus menjadi pemimpin (market leader) di Indonesia.Sebagai Brand yang mendunia, Nokia memiliki kategori produk yang sangat beragam. Dengan demikian konsumen dimanjakan dengan berbagai pilihan mulai dari kategori basic, expression, smart classic, fashion, premium, communicator, tough, hingga music and entertainment, sporty dan imaging. Untuk produk basic tersedia Nokia seri, 2300, 2600, 2650, 3100, 3105, 3108, 3315, 3310,33210, 3300, 3330, 3350, 3530, 3585, 3610, 3650, 3660 sedangkan yang fashion pilihannya berderet mulai dari Nokia 9110, 9110i, 9210i, 9500, 8210, 8250, 8310,8810, 8850, 8855, 8890, 8910, 7110, 7210, 7250, 7600, 7610, 7700, yang sporty tersedia Nokia seri 5100, 5210, 5110, 5110i, 5185, 5510, 6110, 6150, 6170, 6210, 6210, 6225, 6250, 6310i, 6370, 6510, 6585, 6610, 6600, 6650, 6800 Artinya, produk Nokia memang diarahkan untuk segmen konsumen yang berbeda-beda. Inilah strategi Inovasi produk Nokia yang terbukti ampuh menjaring pelanggannya.

L’Oreal, Clarins dan Zihr, ini yang membuat produsen global semacam L’Oreal, Clarins dan Zihr makin gencar mengenalkan produk-produk khusus pria. Kalau L’Oreal dikenal dengan BiothermHomme, sesuai dengan kategori L’Oreal masuk dalam Luxury Products, sementara di Clarins produk pria dilabeli dengan Brand ClarinsMen. Sedangkan untuk Zihr dikenal sebagai produk pria yang menyediakan mulai untuk rambut hingga kaki. Brand produk untuk pria seperti Clinique, Kao, Mandom, Brylcreem, dan Brisk telah berjajar di rak-rak supermarket, yang sudah memiliki nama Brand tersendiri.

Coca cola, rasa menyegarkan Coca-Cola pertama kali diperkenalkan pada tanggal 8 Mei 1886 oleh John Styth Pemberton, seorang ahli farmasi dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Dialah yang pertama kali mencampur sirup karamel yang kemudian dikenal sebagai Coca-Cola. Frank M. Robinson, sahabat sekaligus akuntan John, menyarankan nama Coca-Cola karena berpendapat bahwa dua huruf C akan tampak menonjol untuk periklanan. Kemudian, ia menciptakan nama dengan huruf-huruf miring mengalir, Spencer, dan lahirlah logo paling terkenal di dunia.Dr. Pemberton menjual ciptaannya dengan harga 5 sen per gelas di apotiknya dan mempromosikan produknya dengan membagi ribuan kupon yang dapat ditukarkan untuk mencicipi satu minuman cuma-cuma. Pada tahun tersebut ia menghabiskan US$ 46 untuk biaya periklanan. Pada tahun 1892, Pemberton menjual hak cipta Coca-Cola ke Asa G. Chandler yang kemudian mendirikan perusahaan Coca-Cola pada 1892.Chandler piawai dalam menciptakan perhatian konsumen dengan cara membuat berbagai macam benda-benda cinderamata berlogo Coca-Cola. Benda-benda tersebut kemudian dibagi-bagi di lokasilokasi penjualan penting yang berkesinambungan.Gaya periklanan yang inovatif, seperti desain warna-warni untuk bus, lampu gantung hias dari kaca, serta serangkaian cinderamata seperti kipas, tanggalan dan jam dipakai untuk memasyarakatan nama Coca-Cola dan mendorong penjualan.

Upaya mengiklankan Brand Coca-Cola ini pada mulanya tidak mendorong penggunaan kata Coke, bahkan konsumen dianjurkan untuk membeli Coca- Cola dengan kata-kata berikut: “Mintalah Coca-Cola sesuai namanya secara lengkap, nama sebutan hanya akan mendorong penggantian produk dengan kata lain”. Tetapi konsumen tetap saja menghendaki Coke, dan akhirnya pada
tahun 1941, perusahaan mengikuti selera popular pasar. Tahun itu juga, nama
dagang Coke memperoleh pengakuan periklanan yang sama dengan Coca- Cola, dan pada tahun 1945, Coke resmi menjadi brand dagang terdaftar.
http://www.coca-colabottling.co.id/ina/product/index.php. Betapa sebuah brand menyimpan nilai yang sangat besar artinya bagi perusahaan. Brand Coca Cola lebih dari satu abad, karena nilai yang disumbangkan sebuah brand.

Loyalitas Konsumen Terhadap Brand
Menciptakan loyalitas brand kepada konsumen merupakan salah satu strategi marketing yang harus dipertimbangkan oleh para praktisi dan produsen. Saat ini landscape branding tidak cukup lagi hanya mengandalkan kepercayaan konsumen, tetapi harus mampu membuat mereka mencintai sebuah brand yang lazim disebut lovemark. Lovemarks ini mencakup brand-brand yang akrab dan mampu menggetarkan jiwa ataupun menciptakan perasaan sentimental pada konsumen. Brand yang mampu mencapai tingkat seperti itu misalnya, Grup musik The Beatles. tahun 50-an, Beatless datang dengan konsep musik yang sama dengan Elvis Presley yaitu Rock n Roll, tetapi kenaytaannya Beatless berhasil merebut hati penggemar di Amerika dan membuat mereka menjadi idola sepanjang masa. Konsep yang dibawa The Beatles antara lain adalah, musik rock tidak harus dibawakan seorang diri, tapi bisa ditampilkan dengan harmonisasi suara empat orang. Cara yang berbeda dari pionirnya ini, akhirnya membawa hasil. Bahkan Elvis pun mengakui hal tersebutdapat dikatakan bahwa Beatless telah mereposisi si raja rock n roll Elvis Presley.
Jika anda datang sebagai kompetitor kedua, jangan melakukan hal yang sama
dengan pionir karena tidak akan menang. Jika new comer datang dengan konsep  yang berbeda bahkan dengan cara beriklan yang romantis, bukan tidak mungkin jika kemudian si pionir akan menjadi goyah dan kemudian mengikuti gaya si new comer tersebut.

Kondisi seperti itu, paparnya, sebenarnya terjadi dalam persaingan minuman ringan, Coca Cola dan Pepsi. Sebagai pendatang baru, Pepsi mencoba menggoyah Coca Cola dengan mengusung janji membawa rasa baru yang berbeda. Usaha itu ternyata berhasil. Coca Cola sempat mengubah rasa, tetapi kemudian kembali ke rasa awal setelah mendapat banyak komplain dari pelanggannya. Brand harus mampu mensinergikan tiga aspek penting, yaitu misteri, sensualitas dan keintiman. Banyak brand menjadi hanya sebatas brand karena melupakan dan menyepelekan banyak hal. Brand menjadi biasa karena sudah tidak ada misterinya lagi, terkadang tidak mengerti keinginan konsumen baru dan terjebak pada pola yang sudah terbentuk sehingga menjadi tumpul. ”Banyak brand beranggapan konsumen memiliki cara pandang yang sama dengan yang mereka pikirkan, padahal, lovemarks jauh lebih dalam dari itu. Sesungguhnya manusia banyak dipengaruhi oleh emosi dibanding dengan akal sehat. Dalam dunia marketing, jika bisa menyentuh emosi, maka kejadian selanjutnya adalah menunggu aksi konsumen. Jika mengandalkan akal sehat, maka mereka hanya sampai pada satu kesimpulan
saja. Lovemarks berkaitan dengan membangun hubungan dan dicintai konsumen. Menghadirkan kisah cinta terhadap brand, menjadi ikon, terbungkus dalam sebuah misteri, dan menciptakan ide-ide komunikasi dan pengembangan yang seluruhnya dilakukan oleh perusahaan bukan oleh agen periklanan. Untuk membangun lovemarks diperlukan tiga unsur, yaitu misteri, sensualitas, dan keintiman. Caranya, ciptakan misteri dengan menceritakan cerita-cerita indah seputar brand. Ceritakan tentang sejarah brand, keadaan brand sekarang dan harapannya di masa mendatang agar mereka kagum dan menjadi tertarik. Kemudian rangsang sensualitas konsumen dengan memaksimalkan rangsangan terhadap lima pancaindra. Terakhir, pertahankan terus keintiman yang sudah diraih bersama konsumen, (Hermawan Kartajaya , 2004)

Pengaruh Iklan Dalam Menjual Brand
Pengaruh terpaan iklan terhadap sikap dan perilaku konsumtif bagi konsumen Pandangan bahwa individu dalam menerima pesan dari media massa bukanlah pasif tetapi sebaliknya aktif dan selektif. Sikap individu dibentuk oleh informasi yang menerpanya. Berarti sikap seseorang terhadap brand produk tertentu dapat dibentuk melalui terpaan iklan. Sikap tersebut terbentuk melalui tahapan proses mental dalam dirinya, mulai dari pengenalan masalah, timbulnya kebutuhan, dan pembelian produk, yang dapat dilihat dalam beberapa model tahapan pengambilan keputusan. Sikap yang dihasilkan dapat positif atau negatif terhadap iklan. lklan yang disukai dapat menghasilkan sikap yang positif terhadap brand, dan selanjutnya diharapkan akan membeli brand produk yang diiklankan. Ada tiga konsep utama yang perlu dijelaskan, yaitu : (1) terpaan iklan; (2) teori pengaruh selektif; dan (3) perilaku konsumtif. Iklan merupakan komunikasi non-personal antara produsen dan calon konsumen yang disampaikan melalui media yang dibayar oleh sponsor yang bertujuan untuk membujuk orang membeli produk yang ditawarkan (Bovee dan Arens, 1986, Jefkins 1982). Dalam proses membujuk, pesan merupakan salah satu unsur penting yang perlu mendapat perhatian khusus. Untuk mendapatkan pesan yang mudah diingat, Jamieson dan Campbell (Malik, 1994) mengemukakan beberapa bentuk daya tarik pesan, yaitu: “Brand dagang, kemasan dan slogan, model iklan, musik dan repetisi”. Bila diamati iklan yang ditayangkan saat ini, banyak di antaranya menggunakan teknik kait dalam slogannya. Teknik ini merupakan upaya untuk mempengaruhi daya panggil memori konsumen dengan cara mengaitkan brand dengan atribut atau kata-kata tertentu (Wells, et al. Bovee, Arens, 1986).

Hasil yang diharapkan adalah agar “Brand” tersebut menjadi akrab dan menjadi perbendaharaan kata dalam kehidupan masyarakat. Faktor lain yang dapat menarik perhatian pemirsa adalah model iklan. Model merupakan komponen yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan iklan untuk menjawab pertanyaan penting menyangkut “who says”. Rossiter dan Percy (1997:260) menyatakan bahwa: “presenter iklan memiliki pengaruh yang berarti terhadap sikap khalayak pada brand produk yang diiklankan”.
Selain slogan dan model iklan tersebut, cara lain yang hampir semua pemasar melakukannya adalah repetisi. Repetisi dianggap merupakan teknik yang paling ampuh untuk melekatkan pesan di benak konsumen (Bennett dan Kassarjian, 1987:38-39).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa slogan, model, dan repetisi iklan merupakan daya tarik utama iklan untuk menarik perhatian pemirsa menyaksikan iklan. Perhatian merupakan langkah awal terjadinya proses persepsi. Appibaum dan Anatol (1974) dan Rakhmat (1986) menyatakan bahwa proses persepsi berlangsung secara selektif dan sukarela. Seseorang melihat apa yang ingin dia lihat, dan dengar apa yang ingin dia dengar dan mengabaikan pesan yang lain (Appibaum dan Anatol, 1974, Smith, 1995, Wells, et l,1989, Mulyana, 2000).

Dalam proses komunikasi tidak jarang terjadi perbedaan interpretasi antara individu yang satu dengan yang lainnya terhadap pesan yang sama. Dengan demikian berarti makna tidak melekat pada pesan, tetapi ada pada setiap individu. Pandangan ini menyebabkan model S-R dalam menjelaskan efek komunikasi massa banyak dikritik, karena individu dalam menerima pesan dari media massa bukanlah pasif, melainkan aktif dan selektif. Dengan asumsi tersebut DeFleur melakukan modifikasi terhadap model S-R. Menurut De Fleur (dalam DeFleur dan Ball-Rokeach, 1989, McQuail, 1994, McQuail dan Windahl, 1987) perlu diperhitungkan perbedaan individu, kategori sosial, serta hubungan sosial dalam mempelajari efek komunikasi massa, karena penerimaan khalayak atas berbagai stimulus yang disampaikan melalui media
massa akan berbeda-beda sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya. Pandangan ini tergabung dalam teori pengaruh selektif: yang terdiri dari teori perbedaan individu, kategori sosial, dan hubungan sosial. Dengan demikian berarti setiap pemirsa akan memberikan respons yang berbeda terhadap tayangan iklan yang disajikan televisi.

Teori perbedaan individu sangat kuat dipengaruhi oleh paradigma psikologi yang memandang bahwa perilaku seseorang terarah pada suatu obyek karena didorong oleh kondisi psikologisnya (DeFleur dalam McQuail dan Windahl, 1987, DeFleur dan Ball-Rokeach, 1989). Pendapat ini dipertegas oleh Cutlip dan Center (Malik, Iriantara, 1994), yang menyatakan bahwa “orang yang berbeda akan memberikan respons yang berlainan, karena mereka memiliki tingkat predisposisi motivasional yang berbeda dalam memberikan respons”. Artinya orang yang memiliki motivasi akan lebih aktif dalam memproses iklan. Teori kategori sosial berpandangan bahwa perkembangan masyarakat menyebabkan terbentuknya kategori sosial berdasarkan usia, jenis kelamin, pendapatan, pekerjaan, pendidikan, suku, dan agama. Orang-orang yang berada dalam kelompok sosial yang sama cenderung menanggapi atau memilih pesan yang sama dan akhirnya mempengaruhinya dalam mengambil keputusan. Teori hubungan sosial mengasumsikan bahwa arus informasi berjalan dua tahap. Pertama, informasi berkembang melalui media massa kepada individu-individu secara langsung. Kedua, informasi tersebut kemudian berkembang melalui saluran komunikasi antar pribadi dalam kelompoknya, seperti keluarga, teman dekat, dan anggota kelompok lainnya (DeFleur dan Ball Rokeach, 1989).

Severin dan Tankard (1992); Dyer (1996) menyatakan bahwa kontak personal memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan media massa. Untuk selanjutnya teori ini dikembangkan menjadi teori multi-tahap, yang sering digunakan dalam riset difusi inovasi (Severin dan Tankard, 1992). Dalam hubungan dengan pesan persuasif iklan, teori hubungan sosial dikenal
dengan pengaruh personal atau word-of-mouth advertising (Aasker dan Myers, 1987,

Bennet dan Kassarjian 1987) Pengaruh personal ini meliputi interaksi sosial seseorang dengan teman, tetangga, model, atau dikenal juga dengan reference
group. Selanjutnya pesan persuasif iklan televisi, perbedaan individu, kategori sosial, dan hubungan sosial pemirsa televisi akan mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam pembelian produk Krech, et al.,(1962) menyatakan bahwa sikap individual dibentuk oleh informasi yang menerpa seseorang. Berarti sikap seseorang terhadap produk atau brand tertentu dapat dibentuk melalui terpaan iklan. Hal ini terlihat dari proses pembelian produk yaag dikemukakan Rossiter dan Percy (1997), yang mengemukakan bahwa. “tahap-tahap respons konsumen mulai dari terpaan iklan pengolahan timbulnya kebutuhan pencarian informasi dan evaluasi, pembelian,
penggunaan”. Selain itu Schiffman dan Kanuk (1994) mengemukakan model sikap terhadap iklan. Model ini menggambarkan bahwa terpaan iklan menghasilkan pengetahuan dan perasaan terhadap iklan. Keduanya akan menghasilkan sikap terhadap iklan dan sikap terhadap brand produk. Sikap ini dapat positif atau negatif terhadap merek yang diiklankan. lklan yang disukai dapat menghasilkan sikap yang positif terhadap merek produk atau sebaliknya. Contoh beberapa Iklan dan slogannya : Produk Handphone merek Nokia 7610, slogan : ” Mari kita informasikan ke seluruh dunia; Produk susu merek Dancow, slogannya :” Aku Dancow suka Dancow”; Produk kacang asin merek Garuda, slogannya :” Enak dimakan enak dibadan ”; Produk Televisi merek Samsung T20, slogannya :” Suaranya dahsyat gambarnya hebat ”; Produk Kulkas merek Polytron, slogannya :” Hooo masih repot, mau yang dingan buka pintu bawah saja..mau yang panas buka pintu atas,…… hot and cool , diakhir slogan, yang lain lewat”. Telepon Flexy, bukan telepon biasa, mobilitasnya tinggi, tetap tarif rumah. Dengan segala atribut yang dimiliki dikemukakan pada iklan, tujuan akhir dari iklan adalah tumbuhnya sikap positif terhadap brand produk. Sikap ini akan mengaktifkan kebutuhan atau keinginan baru seseorang yang terkena terpaan iklan. Sikap ini membuat orang merasa tidak puas jika barang yang diinginkan belum dimiliki.

Menciptakan Strategi Pemasaran Yang Efektif Dalam persaingan Global
Suatu perusahaan didirikankan untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan ini biasanya dirumuskan dalam visi dan misi perusahaan yang merupakan gambaran mengenai hal-hal yang ingin dicapai perusahaan dimasa yang akan datang.

Pernyataan tujuan atau misi yang disusun perusahaan haruslah memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:

  • Lingkup industri, yaitu kelompok industri apa yang dimasuki perusahaan.
  • Lingkup produk dan aplikasi, yaitu kelompok produk dan aplikasi dimana perusahaan akan bergerak.
  • Lingkup kompetensi, kelompok teknologi dan kompetensi yang akan dikuasai dan dikembangkan perusahaan.
  • Lingkup segmen pasar, yaitu jenis pasar dan pelanggan yang dilayani perusahaan.
  • Lingkup vertikal, jumlah tingkat saluran dari bahan mentah sampai produk akhir serta penyaluran yang dimasuki perusahaan.
  • Lingkup geografis, kelompok daerah atau negara yang akan dimasuki perusahaan.
  • Selanjutnya perusahaan perlu merumuskan rencana strategi baik dalam bentuk rencana strategi korporasi, rencana strategis bisnis dan rencana strategis fungsional sebagai dasar perusahaan untuk beraktivitas.
  • Perencanaan Strategis Pemasaran.
  • Proses perencanaan strategis pemasaran meliputi langkah-langkah sebagai berikut :
  • Penentuan tujuan perusahaan.
  • Penentuan pasar sasaran.
  • Tujuan pemasaran.
  • Program pemasaran.
  • Strategi pemasaran.
  • Pelaksanaan.
  • Pengawasan.
  • Pembandingan dengan tujuan perusahaan
  • Beberapa hal yang diputuskan dalam proses perencanaan strategis pemasaran meliputi :
  • Pengelolaan brand dan produk.
  • Saluran distribusi.
  • Harga.
  • Pengiklanan.
  • Penentuan banyaknya para penjual

Bentuk Perencanaan Strategis Pemasaran Bentuk perencanaan strategis pemasaran seperti yang dikemukakan oleh Michael Porter dalam H.I Gitosudarmo (2001) adalah sebagai berikut :

  • Strategi Generik strategi ini merupakan suatu program kerja yang berusaha untuk menjual barang-barang dengan harga murah namun  dengan mutu yang cukup bagus.
  • Brand and Product differentiation, strategi ini merupakan upaya untuk membuat brand dan produk perusahaan berbeda dengan lainnya.
  • Focus, yaitu strategi yang mencoba untuk menitikberatkan atau memfocuskan pada daerah pasar atau target konsumen tertentu dan
    terbatas serta biasanya sempit.
  • Strategi keunggulan brand dan teknologi, yaitu strategi yang menggunakan brand dan teknologi unggul atau teknologi canggih.
  • Strategi Reaktif dan Proaktif adalah strategi reaktif adalah strateg yang bersifat membalas apa saja yang dilakukan pesaing sedangkan strategi proaktif adalah perusahaan tidak saja melakukan tindakan pembalasan, akan tetapi berusaha mencari terobosan yang baru yang berbeda.
  • Strategi bertahan dan menyerang yang terdiri dari : (1) strategi bertahan, yaitu strategi yang dilakukan perusahaan yang menduduki posisi bisnis yang cukup tinggi yang mempertahankan posisinya dari serangan para pesaing; (2) strategi menyerang, yaitu strategi dari level bisnis yang masih rendah yang kemudian dengan upaya tertentu menantang pada pebisnis yang diatasnya.

Strategi pemasaran brand dan produk
Dalam strartegi pemasaran brand dan produk, beberapa hal yang dipertimbangkan adalah :

  • Pemasaran massal, perusahaan terlibat dalam produksi masal, distribusi masal, dan promosi masal dari satu brand dan produk untuk seluruh pembeli.
  • Pemasaran produk yang beraneka ragam, perusahaan memproduksi beberapa produk yang menunjukkan bentuk, mode, kualitas, ukuran dan lain-lain yang berbeda. Hal ini dirancang untuk menawarkan keanekaragaman pada pembeli dan untuk menarik segmen pasar yang berbeda.
  • Sasaran pemasaran, perusahaan membedakan segmen pasar utama, menetapkan satu atau lebih dari segmen-segmen ini sebagai sasaran.

Identifikasi pasar
Menurut pandangan Ilmu Ekonomi, pasar diidentifikasikan sebagai permintaan, yaitu jumlah produk yang dapat diserap oleh konsumen dari produk yang ditawarkan pada tingkat harga tertentu. Sedangkan dari sudut pandang bisnis, pasar adalah tidak hanya merupakan interaksi antara penawaran dengan permintaan saja akan tetapi merupakan orang-orang atau organisasi yang membutuhkan produk itu dan selanjumya menyangkut siapa orang atau organisasi yang membutuhkan produk tersebut beserta bagaimana sifat-sifat mereka.
Tujuan identifikasi pasar adalah :

  • Menentukan pasar apa yang sedang atau akan dilayaninya. Hal ini dapat diidentifikasikan lewat penentuan tentang kebutuhan apa yang akan dilayaninya dan siapa atau orang (organisasi) yang mana yang dilayaninya.
  • Menentukan di mana lokasi tempat tinggal dari orang atau organisasi yang membutuhkan produk yang dipasarkannya.
  • Seberapa luas jumlah potensi pasar serta estimasi pasar yang dapat dilayaninya. Hal ini perlu untuk menganalisis apakah pasar tersebut cukup luas dan ekonomis untuk dilayaninya.
  • Menentukan sifat-sifat dan karakteristik dari pasar tersebut Hal ini menyangkut analisis tentang selera, kesenangan, kebiasaan, sikap perilaku, gaya hidup maupun kebudayaan yang dimiliki oleh konsumennya.

Segmentasi Pasar
Pasar terdiri dari pembeli yang berbeda-beda dalam berbagai hal antara lain keinginan, daya beli, lokasi geografis, perilaku pembelian dan praktek pembelian. Perusahaan yang memutuskan untuk beroperasi dalam pasar yang
luas menyadari bahwa perusahaan biasanya tidak dapat melayani seluruh pelanggan dalam pasar tersebut. Para pelanggan terlalu banyak, terpencar, dan bervariasi dalam persyaratan pembelian mereka, sehingga perusahaan melakukan segmentasi pasar yaitu tindakan mengidentifikasi dan membentuk kelompok pembeli yang terpisah-pisah yang mungkin membutuhkan brand dan produk dan atau bauran pemasaran yang tersendiri. Variabel yang berbeda digunakan untuk mensegmentasi pasar konsumen yaitu :

  • Membentuk segmen dengan menentukan ciri-ciri konsumen yang meliputi :(1) geografi : wilayah, ukuran kota, pendapatan;
    (2) demografi : usia, jenis kelamin, siklus hidup keluarga,
    penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama dan suku; (3) psikografi : kelas sosial, gaya hidup, kepribadian;(4) perilaku : peristiwa, manfaat, status pemakai, tingkat pemakaian dan sikap terhadap produk.
  • Membentuk segmen dengan memperhatikan tanggapan konsumen terhadap manfaat yang dicari, waktu penggunaan, dan brand.

Memilih segmen pasar
Setelah mengevaluasi segmen-segmen yang berbeda, perusahaan harus memutuskan segmen mana dan berapa banyak segmen yang harus dilayani. Terdapat lima pola pemilihan pasar sasaran yaitu :

  • Konsentrasi segmen tunggal, yaitu perusahaan berkonsentrasi pada brand dan produk tertentu.
  • Spesialiasi selektif, perusahaan memilih sejumlah segmen, masing-masing menarik dan cocok secara objektif berdasarkan tujuan dan sumber daya perusahaan.
  • Spesialisasi brand dan produk, perusahaan berkonsentrasi dalam membuat brand dan produk tertentu yang dijualnya pada beberapa segmen.
  • Spesialisasi pasar, perusahaan berkonsentrasi dalam melayani banyak kebutuhan dari suatu kelompok konsumen tertentu.
  • Cakupan seluruh pasar, perusahaan berusaha melayani seluruh kelompok pelanggan dengan semua produk yang mungkin mereka butuhkan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pembeli dalam memutuskan pembelian terhadap suatu produk. Hal ini akan menjadi pertimbangan manajemen dalam melepaskan suatu produk di pasar. Faktor-faktor tersebut adalah :

  • Konsumen :(1) ketersediaan barang, pembeli akan lebih tertarik pada produk yang banyak tersedia di pasar dibanding produk yang langka; (2) kemudahan, pembeli lebih menyukai barang yang mudah didapat; (3) kredit, pembayaran dengan kredit akan lebih diminati; (4) harga, harga yang terjangkau akan menarik pembeli; (5) mutu, mutu yang baik akan mempengaruhi keputusan membeli; (6) reputasi, pembeli lebih menyukai brand dan produk yang sudah punya reputasi daripada brand dan produk yang belum dikenal; (7) keragaman, produk yang beraneka ragam akan lebih disukai; (8) jaminan, produk yang mempunyai jaminan lebih disukai pembeli dari pada yang tidak dijamin.
  • Pedagang eceran/besar :(1) brand dan produk bersaing, yang lebih diminati oleh konsumen; (2) pengakuan konsumen, pedagang lebih menyukai produk yang sudah diakui konsumen; (3) ketersediaan produk, produk yang tersedia akan lebih diminati;(4) Banyaknya jenis produk, produk yang beraneka ragam lebih disukai pedagang;(5) perputaran produk; (6) potensi laba, produk yang menjanjikan laba yang besar lebih menarik bagi pedagang.
  • Pembeli industri :(1) pembiayaan yang murah akan lebih menarik minat industri; (2) ketaatan hukum;(3) harga yang bersaing akan lebih diminati; (4) informasi produk, produk yang lebih diinformasikan akan lebih menarik minat industri; (5) jenis brand dan produk tertentu lebih disukai; (6) bantuan teknis, industri lebih menyukai produk yang mendapat bantuan teknis dalam pemasaran dan pemakaiannya.
  • Manfaat Perencanaan Strategi Pemasaran Strategi pemasaran sebagai bagian dari strategi fungsional memiliki beberapa manfaat antara lain : (1) Menetapkan tujuan operasional pemasaran untuk setiap sasaran pasar; (2) Menentukan kebijaksanaan dan taktik memanfaatkan sumber daya pemasaran untuk mencapai tujuan;(3) Mendesain organisasi pemasaan;(4) Implementasi kegiatan yang telah direncanakan;(5) Menilai dan mengawasi kegiatan yang dilaksanakan menuju (6) sasaran yang diinginkan.

Penutup
Keberhasilan dari suatu perusahaan dalam persaingan tidak terlepas dari kata kunci yang telah diprogramkan sebelumnya. Untuk menentukan dan menyelesaikan serta memutuskan tindakan selanjutnya yaitu kata kuncinya adalah ” Produsen sangat berkepentingan dengan brand identity sedang brand image adalah kesan konsumen terhadap produk ”. Selanjutnya tindakan mengamankan produk merupakan strategi yang dibuat untuk memperthankan citra produk sebelumnya, maka kata kuncinya adalah ” Amankanlah brand yang sudah ada ” Dinamika kompetisi akan melahirkan kecenderungan konsumen untuk membeli sebuah brand ketimbang produk, maka kata kuncinya ” Perusahaan yang berani bersaing adalah perusahaan yang berhasil menjual brand bukan sekedar produk ”. Sesungguhnya manusia banyak dipengaruhi oleh emosi dibanding dengan akal sehat. Dalam dunia marketing, jika bisa menyentuh emosi, maka kejadian selanjutnya adalah menunggu aksi konsumen, kata kuncinya adalah ” Lovemarks ini mencakup brand-brand yang akrab dan mampu menggetarkan jiwa ataupun menciptakan perasaan sentimental pada konsumen ” Dengan segala atribut yang dimiliki dikemukakan pada iklan, kata kuncinya ” Tujuan akhir dari iklan adalah tumbuhnya sikap positif terhadap brand produk ”.

Menciptakan strategi pemasaran yang efektif dalam persaingan global, kata kuncinya adalah ” Informasi pesaing sangat penting untuk mendapatkan peluang bisnis ”.