Konsep Jaringan Access TELKOM : Berestetika, Berwawasan Lingkungan, Bersih Indah & Rapi (Bagian-2)

B A B II

TINJAUAN TEORI

2.1. Sistem desain

Prinsipnya, tiap desain adalah suatu jalan pikiran dari ide ke bentuk. Ide timbul atas dasar analisis, pengarahan pikiran dari ide menuju bentuk membutuhkan suatu konsep. Prinsip ini adalah ide sebagai dasar desain meskipun terdapat kesulitan-kesulitan, misalnya bahan bangunan, lokasi, iklim, dan keuangan. Pengetahuan ini penting sekali dalam bidang konstruksi karena akan mempengaruhi ruang dan lingkungan sekitarnya. Menurut Umar (1997) secara konsep desain dapat dibagi dalam tiga bidang, yaitu bidang lingkungan, bidang struktur bangunan, dan bidang fungsi hubungan organisasi.

Bidang lingkungan, yaitu hubungan konstruksi yang direncanakan di dalam lingkungan kota, maupun kawasan lainnya termasuk konsep site atau situasi meliputi : orientasi terhadap matahari, jalan, saluran air, telepon, listrik, landscaping, kebisingan, polusi, dan pencemaran.

Bidang struktur bangunan, bentuk ruang, konsep denah menurut kebutuhan ruang, bahan bangunan, konstruksi bangunan, ukuran bangunan, bentuk dan kemungkinan perluasan. Bentuk memastikan konstruksi bangunan dan konstruksi membutuhkan bahan bangunan tertentu.

Bidang fungsi hubungan organisasi , yaitu hubungan antara ruang-ruang, fungsi ruang di dalam denah, perbandingan ukuran-ukuran ruang, hubungan antara bangunan dan lingkungan.

Masing-masing bidang tidak dapat berdiri sendiri melainkan hubungan satu dengan yang lainnya menjadi erat dan intensip.(Gambar 1).

 
  clip_image001
 
  clip_image008

2.2. Rekayasa

Rekayasa (engineering) adalah suatu kegiatan perancangan (design) yang tidak rutin sehingga di dalamnya terdapat kontribusi baru, baik dalam bentuk proses maupun produk atau prototip. Kegiatan perancangan itu sendiri pada dasarnya merupakan usaha secara intelektual untuk memenuhi tuntutan tertentu dengan cara yang optimal ditinjau dari aspek teknis, ekonomis, sosial, budaya, dan lingkungan.

Perancangan (design) dapat dibedakan menjadi tiga katagori sebagai berikut (1) perancangan produk (product design), (2) perancangan proses (process design), (3) perancangan rekayasa (engineering design).

Ciri-ciri kegiatan perancangan (design) adalah merupakan suatu kegiatan kreatif yang dilandasi oleh pemahaman yang baik, atas bidang keilmuan meliputi matematika, fisika, kimia, mekanika, arsitektur, termodinamika, hidrokimia, listrik, teknik produksi, teori perancangan, dan pengetahuan praktis serta pengalaman dalam bidang khusus.

Menurut umar (1997) sasaran perancangan rekayasa adalah optimalisasi atas tujuan tertentu dalam berbagai kendala yang ada bahkan saling bertentangan. Tahapan-tahapan utama perancangan rekayasa yaitu (1) Ide-ide dan kejelasan tugas, (2) konseptual rancangan, (3) susunan, geometri, kefungsian, (4) rancangan detail, (5) pembuatan prototip atau model, dan (6) pengujian.

Prosedur perancangan rekayasa disajikan pada (Gambar 2).

clip_image009

 
  clip_image010
 
  clip_image011

Gambar 2. Bagan alir prosedur penelitian bidang rekayasa.

(Umar, 1997)

Prosedur penelitian bidang rekayasa dapat dirinci sebagai berikut :

2.2.1. Kegiatan rencana dan tugas meliputi (1) pengumpulan informasi, (2) penentuan pembatas,dan (3) batasan dalam rancangan.

Keluaran dalam tahapan ini adalah berupa spesifikasi kriteria yang menyangkut rancangan tersebut. Spesifikasi ini dapat diolah lebih lanjut menjadi spesifikasi detail atas setiap komponen rancangan.

2.2.2. Rancangan konseptual

Tahapan ini dilaksanakan perancangan secara konseptual sebagai berikut (1) identifikasi problem kritis, (2) penentuan struktur fungsi, dan (3) penentuan alternatif pemecahan serta dasar-dasar pemecahan dengan memperhatikan kriteria teknik maupun kriteria ekonomis.

2.2.3. Susunan rancangan

Kegiatan dalam tahapan ini ditujukan untuk penentuan susunan rancangan yang kegiatannya menyangkut (1) penentuan tata letak awal dan konsep bentuk awal berbagai komponen yang didasarkan pada pertimbangan teknik maupun ekonomi, (2) optimasi dan pemeriksaan kelemahan konsep rancangan secara menyeluruh, dan (3) penentuan tata letak yang terbaik.

2.2.4. Rancangan detail

Tahapan ini, aspek-aspek perancangan yang menyangkut interaksi antar komponen, bentuk, dan fungsi antar komponen, ukuran, spesifikasi material, kelaikan secara teknik dan ekonomi semuanya diperiksa secara rinci. Kegiatan dalam tahapan ini meliputi (1) optimasi atas hal-hal (konsep dasar, tata letak dan bentuk), dan (2) penyiapan daftar elemen dan dokumen produksi, penyiapan gambar teknik.

2.2.5. Pembuatan gambar prototip

Tahapan ini berdasarkan hasil kegiatan dalam tahap sebelumnya, maka dilakukan pembuatan prototip atau model.

Catatan : Kasus misalnya dalam bidang teknologi elektronika, industri maka pembuatan prototip atau model dapat dilakukan dalam tahap rancangan konseptual, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah memeriksa konsep-konsep yang bersifat fundamental.

2.2.6. Pengujian

Tahapan ini dilakukan pengujian terhadap prototip dan kegiatanb menyangkut (1) perencanaan pengujian, dan (2) pelaksanaan pengujian.

Tujuan pengujian adalah (1) mencari unjuk kerja, (2) menetukan kreteria khusus, dan (3) mencari hubungan antara parameter yang berpengaruh atas kerja prototip.

Setiap tahapan diperoleh hasil yang digunakan sebagai umpan balik terhadap kegiatan tahapan sebelumnnya yang ditujukan untuk (1) penajaman, (2) peningkatan, dan (3) perbaikan atas tahapan berikutnya.

2.2.7. Spesifikasi rancangan

Spesifikasi mengandung informasi yang harus dipenuhi oleh rancangan , hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan spesifikasi rancangan adalah (1) isi spesifikasi meliputi: persyaratan utama, merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh rancangan karena bila hal itu tidak terpenuhi maka rancangan tersebut tidak dapat diterima, peryaratan tambahan merupakan syarat yang perlu diperhatikan dan dipenuhi selama hal itu memungkinkan, (2) format, spesifikasi ditulis dalam format tertentu sesuai dengan standar yang digunakan, dan (3) daftar persyaratan.

2.3. Pembangunan Berwawasan lingkungan

Pembangunan berwawasan lingkungan (PBL) muncul pertama kali untuk mengatasi bahaya polusi pada permulaan tahun 1970-an yang merupakan kekhawatiran akibat dampak negatif dari perkembangan industri yang pesat. Konsep pembangunan berwawasan lingkungan berangkat dari gagasan, bahwa sumberdaya alam itu terbatas dalam memenuhi kebutuhan manusia (human needs) yang cenderung tidak terbatas, sehingga perlu dilestarikan dan dipelihara supaya dapat dimanfaatkan baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang.Pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah konsep pembangunan yang menselaraskan antara aktifitas ekonomi dan ketersediaan sumberdaya alam. Perkembangan pembangunan berwawasan lingkungan melahirkan pemikiran yang bervariasi sesuai dengan konteks dan kepentingan tertentu. Secara umum konsep pembangunan berwawasan lingkungan mengacu kepada bagaimana mengharmoniskan dua kepentingan, pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam (Yakin, 1997).

2.4. Estetika Lingkungan

Istilah Estetika dipopulerkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762) melalui beberapa uraian yang berkembang menjadi ilmu tentang keindahan (Anonimous, 1999).

Baumgarten menggunakan istilah estetika untuk membedakan antara pengetahuan intelektual dan pengetahuan indrawi.Istilah estetika baru muncul pada abad 18, maka pemahaman tentang keindahan sendiri harus dibedakan dengan pengertian estetik. Sebuah bentuk mencapai nilai yang betul, maka bentuk tersebut dapat dinilai estetis, sedang bentuk yang melebihi nilai betul, hingga mencapai nilai baik penuh arti, maka bentuk tersebut dinilai sebagai yang indah. Pengertian tersebut, sesuatu yang estetis belum tentu dalam arti sesungguhnya, sedangkan sesuatu yang indah pasti estetis, maka diperlukan satu sikap khusus bagi seseorang agar dapat mencari pengalaman estetik, termasuk pengamatan objek estetik ataupun penciptaan objek estetik itu sendiri. Kajian filsafat, tentang pemahaman mengenai estetika dapat dilakukan secara langsung dengan meneliti keindahan itu dalam obyek benda atau alam indah serta karya seni. Di samping itu, dapat dilakukan dengan menyeroti situasi kontemplasi rasa indah yang sedang dialami oleh pengamat (pengalaman keindahan yang dialami seseorang).Keindahan hanya dapat ditemukan oleh orang yang dalam dirinya sendiri telah memiliki pengalaman sehingga dapat mengenali wujud bermakna dalam satu benda atau karya seni tertentu dengan getaran atau rangsangan keindahan.

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam perbandingan adalah sebagai berikut :

(1) Kompleksitas, yaitu berapa banyak ragam komponen yang membentuk suatu lingkungan, makin banyak ragamnya makin positif menilainya, misalnya pemandangan alam dengan berbagai macam flora dan fauna akan dinilai lebih indah daripada tiang-tiang listrik dan telepon.

(2) Novelty (keunikan), yaitu seberapa jauh lingkungan itu mengandung komponen-komponen yang unik yang tidak ada ditempat lain yang baru atau sebelumnya terlihat.

(3) Incongruity (ketidaksesuaian), yaitu seberapa jauh suatu faktor tidak cocok dengan konteks lingkungan.

(4) Kejutan, yaitu seberapa jauh kenyataan tidak sesuai dengan harapan.

Masalah estetika lingkungan juga dipengaruhi oleh kesukaan terhadap lingkungan yang berbeda-beda. Psikologi Lingkungan menyatakan bahwa preferensi (kesukaan) ditentukan oleh beberapa hal yaitu :

(1) Keteraturan (coherence), semakin teratur, semakin disukai. Taman-taman yang terpelihara rapi dan bunga-bunga yang teratur lebih disukai daripada halaman yang luas dan banyak ditumbuhi semak belukar.

(2) Texture, yaitu kasar lembut suatu pemandangan, semakin lembut semakin disukai. Hamparan sawah dengan padi yang menguning lebih disukai daripada batu karang atau kaktus tumbuh tidak beraturan.

(3) Keakraban dengan lingkungan, makin dikenal suatu lingkungan semakin disukai.

(4) Keluasan ruang pandang, makin luas ruang pandang semakin disukai. Kemajemukan rangsangan, semakin banyak elemen yang terdapat dalam pemandangan semakin disukai (Sarwono, 2001).

Persoalan mengenai dasar pengalaman estetis sendiri muncul sejak abad 18 setelah berkembangnya matematika. Semua pemikir cenderung mencari dasar-dasar yang kuat yang bersifat matematis untuk moral, politik hingga estetika. Pada abad pertengahan, pengalaman keindahan dikaitkan dengan kebesaran alam ciptaan Tuhan dan pada masa kini pengalaman estetis dikaitkan dengan pengalaman religius. Pada jaman modern, pengalaman keindahan dikaitkan dengan tolok ukur lain seperti fungsi, efisiensi, yang memberi kepuasan, berharga untuk dirinya sendiri, dan pada tahap kesadaran tertentu.

Kajian mengenai keindahan telah didokumentasikan dari jaman dahulu hingga sekarang. Jaman dahulu keindahan dalam Arsitektur dihargai lebih tinggi dibandingkan dengan keindahan obyek-obyek lainnya, akan tetapi secara mendasar tingkat keindahan pada aneka objek itu sama penting. Peradaban Mesir menghasilkan banyak objek yang kita sebut hari ini sebagai indah, kata keindahan secara nyata tidak pernah hadir pada tulisan-tulisan saat itu. Ahli konstruksi dan seniman menggunakan teori proporsi yang berkaitan dengan rumus-rumus matematik untuk mencapai keindahan, sebagai dasar untuk mengkonstruksikan sistem proporsi seperti yang kemudian dipergunakan secara luas.

Sesuatu disebut indah jika menyenangkan mata sipengamat, namun di samping itu terdapat penekanan pada pengetahuan bahwa pengalaman keindahan akan bergantung pada pengalaman empirik dari pengamat. Hal yang selalu mencolok adalah kondisi dan sikap terhadap subyek keindahan, persiapan individu untuk memperoleh pengalaman estetik. Keindahan adalah hasil dari empat syarat yaitu keseluruhan, kesempurnaan, keselarasan yang benar, kejelasan, dan kecemerlangan.

Aristoteles (384-322 SM), memiliki kebiasaan untuk memperjelas konsep-konsep melalui perhitungan komponen-komponen. Keindahan dalam karya, menyajikan teori desain yang mengikut-sertakan faktor-faktor kualitatif, tidak saja faktor konstruktif.

Bangunan, indah bila penampilan rupa dari pekerjaan tersebut menyenangkan, dalam cita-rasa yang baik dan ketika setiap bagian sesuai dengan proporsi yang mengacu pada prinsip-prinsip yang tepat.

Keindahan akhirnya mengadopsi pandangan bahwa cita rasa keindahan bukanlah semata berasal dari sifat-sifat objek saja, akan tetapi juga tergantung pada kondisi pengamat dan lingkungan. Kajian mengenai keindahan sebagai kualitas objek seni telah dilanjutkan lebih sistematis dalam pendekatan modern sebagai berikut :

O/C = Hasil dari keberaturan dibagi kompleksitas.

M = (Measure) Nilai keindahan.

O = (Orde ) Keberaturan.

C = (Complexity) Kompleksitas.

Psikologi persepsi berkembang dari psikologi tradisional dimana manusia dan lingkungan merupakan elemen dasar dan saling mempengaruhi satu sama lain melalui stimulus dan respon. Berdasarkan kenyataan tersebut, maka pertimbangan estetika dalam pengolaan instalasi jaringan telekomunikasi setidaknya dapat didekati melalui pemahaman karya eko-arsitektur sebagai obyek estetik dan pemahaman terhadap manusia sebagai subjek yang mengamati atau menciptakan karya yang estetik.

Estetika lingkungan sangat erat kaitannya dengan persepsi dan sikap terhadap lingkungan. Masalah psikologi lingkungan adalah bagaimana seseorang menilai keindahan (estetika lingkungan). Mengapa misalnya orang melihat Tower (menara) sebagai sesuatu yang indah, sedang tiang telepon, tiang listrik yang tidak beraturan dianggap merusak pemandangan (Sarwono, 2001).

Ada dua konsep utama dalam pandangan mengenai estetika lingkungan, yaitu perbandingan stimulus mana yang cocok dan yang tidak cocok. Perbandingan tersebut menimbulkan konflik perseptual yang menyebabkan seseorang membandingkan satu stimulus dengan stimulus lainnya atau stimulus terdahulu. Hasil perbandingan itulah orang menetapkan mana yang lebih bagus atau lebih indah.

2.5. Konstruksi Jaringan Akses Telekomunikasi

2.5.1. Jaringan Kabel Telepon Akses Tembaga (Kabel Udara)

Akses Tembaga, adalah suatu sistem jaringan telekomunikasi dimana media yang digunakan untuk berhubungan antara pengguna jasa telekomunikasi dengan yang lainnya menggunakan sinyal elektromagnet melalui tembaga.

Akses tembaga jenis kabel udara lazim juga jaringan kabel telepon semi permanen.Semi permanen karena dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi, seperti adanya pergeseran rute, direalokasi menurut keperluan.

Beberapa cara instalasi kabel udara sesuai dengan Pedoman Pemasangan Jaringan Telekomunikasi yang dipersyaratkan meliputi :

 
Gambar 3. Temberang Tarik

 

clip_image013

Fungsi temberang tarik adalah untuk menahan beban gaya tarikan kabel sehingga tiang tidak miring, sudut kawat temberang yang dipersyaratkan 45º.

Pemberlakuan spesifikasi teknik pemasangan temberang pada lahan kota yang terbatas mengalami kendala sehingga banyak konstruksi instalasi tiang menjadi miring (tidak tegak), karena tidak memiliki temberang penahan. Kemiringan tiang telepon mempengaruhi standarisasi kelenturan instalasi kabel udara (Gambar.3)

 
Gambar 4. Kabel Udara dan Perlengkapan

 

clip_image015

Kabel udara tidak dapat ditarik dengan horizontal (dalam posisi garis lurus) karena adanya pengaruh berat dan gaya grafitasi, lentur didefinisikan sebagai jarak terjauh antara garis lurus yang terbentuk oleh dua tambatan kabel udara itu sendiri.

Faktor-faktor yang menentukan lentur dan tegangan adalah (1) batas putus gaya tegang (breacking tension) dari kawat penggantung, (2) berat kabel udara (kg/m) termasuk kawat penggantung, (3) gaya tegang tambahan seperti beban angin dan jarak tiang (critical span), dan (4) kelenturan kabel udara di Indonesia ditentukan maksimum 2 % dari panjang (jarak) gawang tiang telepon dengan tetap memperhatikan unsur-unsur estetika.

Cara praktis dalam menentukan kelenturan kabel sebagai berikut (1) beri tanda pada tiang A dan B yang menunjukan posisi titik lentur dengan syarat yang ditetapkan, dan (2) lentur maksimum akan dapat diketahui dengan cara menarik garis imaginer antara kedua titik dan membandingkan dengan kondisi lentur kabel udara yang ada (Anonimous, 1998).

 
Gambar 5. Penambatan Kabel Pada Tiang

 

clip_image017

Kabel ditambat pada tiang telepon, saat rute membelok atau pemasangan pada tiang awal maupun tiang akhir. Untuk menegangkan kabel udara digunakan sekang penyetel (Gambar. 5).

 
Gambar 6. Penyambungan Kabel Udara di Atas Tiang Telepon

 

clip_image019

Setiap sambungan kabel udara ditempatkan dekat tiang telepon diikat di atas bearer kabel sehingga lebih rapi dan tidak bergerak (Gambar 6), (Anonimous, 1998).

 
Gambar 7. Instalasi Saluran Penanggal di Rumah Pelanggan

 

clip_image021

Tiga macam jenis saluran penanggal atas tanah (1) saluran penanggal (dropwire) dengan kawat penggantung tunggal STEL-K-004, (2) saluran penanggal (dropwire) dengan kawat penggantung ganda untuk daerah yang banyak layang-layang (STEL-K-013), dan (3) saluran penanggal (dropwire) tanpa kawat penggantung (Gambar 7), (Anonimous, 1982).

 
 

 

 
Gambar 8. Penyeberangan Kabel Udara Pada Lintasan Jalan

 

 
 

 

clip_image023

Penyeberangan rute kabel udara dengan ketentuan sebagai berikut (1) penyeberangan harus diusahakan sejauh mungkin membentuk sudut 90º dengan as jalan, dan (2) apabila tidak memungkingkan, diusahakan dengan sudut minimal 45º sehingga lintasan kabel relatif masih pendek.Tinggi rute kabel pada lintasan jalan raya (as jalan) minimal 6 meter dengan menggunakan tiang panjang 8 meter dan 5,5 meter untuk tiang panjang 7 meter rute lurus atau sesuai dengan ketentuan PEMDA setempat (Gambar 8), (Anonimous, 2000).

 
Gambar 9. Kabel Telepon Bersilangan dengan Kabel Listrik (Anonimous, 2000)
 
 
 
 

clip_image025

 
Gambar 10. Jarak Tiang Telepon Terhadap Tiang Listrik (Anonimous, 2000)
 
 
1.2 m
 

clip_image027

 
Gambar 11. Pemasangan Tiang Telepon (Anonimous, 2000)
 

clip_image028clip_image030

Teknik pemasangan tiang telepon harus memenuhi ketentuan sebagai berikut (1) kedalam penanaman tiang 1/5 dari tinggi tiang (7 meter) yaitu 140 Cm, (2) tiang didirikan dengan tegak lurus dengan membentuk sudut 90º, dan (3) untuk mencegah korosi (karat) tiang dicor dengan beton (Gambar 11).

 
Gambar 12. Blok diagram jaringan kabel (Anonimous, 1982)
 

clip_image032

       
  clip_image035
 
     
Gambar 13. Sketsa jaringan kabel udara (overhead cable)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.5.2 Jaringan Kabel Permanen Akses Tembaga (Kabel Tanah Tanam Langsung).

Jaringan kabel permanen juga disebut jaringan kabel tanah tanam langsung. Permanen karena jaringan tidak dapat direalokasi atau digeser karena telah tertanam dalam tanah. Bila kapasitasnya sudah maksimal maka dilakukan ekspansi berikutnya menurut keperluan.

Spesifikasi kabel tanah yaitu STEL-K-007 dimana bahan-bahannya dibuat dari jenis yang tahan terhadap temperatur panas mata hari maupun udara yang lembab. Jangka waktu pemakaian untuk kondisi normal antara 20-30 tahun. Kabel tanah ini diberi proteksi jelly untuk mencegah masuknya air kedalam celah-celah urat kabel. Kapsitas kabel mulai dari 10 pasang hingga 2.400 pasang.

 
  clip_image039clip_image040clip_image041clip_image042

 
   
Gambar 14. Penampang Alur Galian Kabel Primer(Anonimous, 1995)

 

 
  clip_image043clip_image044clip_image045

 
   
Gambar 15. Penampang Alur Galian Kabel Sekunder dengan

Indikator Warning Tape (Anonimous, 1995)

 

 
  clip_image048clip_image049clip_image050clip_image051

 
   
Gambar 16. Pemasangan Kabel Telepon Melintas Jalan (Anonimous, 1995)

 

       
    clip_image054
 
   
Gambar 17. Pemasangan Pipa Pengaman Melintas Jalan (Anonimous, 1995)

 

 
  clip_image055

 
   
Gambar 18. Kabel tanah dan Pipa Pengaman pada Parit(Anonimous, 1995)

 

clip_image057

 
   
Gambar 19. Kabel tanah dan pipa pengaman pada jembatan(Anonimous, 1995)

 

 
  clip_image059clip_image060

 
   
Gambar 20. Konstruksi pagar jembatan (Anonimous, 1995)

 

 
  clip_image062clip_image063clip_image064clip_image065

clip_image067

 
  clip_image069

2.5.3. Jaringan Kabel Tanah Sistim Duct

Duct adalah merupakan sejumlah pipa yang dicor dengan menggunakan beton (permanen) atau diselubungi pasir (semi permanen). Duct (polongan), adalah bagian dari struktur jaringan dimana terinstalasi susunan pipa PVC diameter 4 Inchi, ditanam dalam tanah mulai dari kapasitas 4 –72 pipa, yang digunakan untuk keperluan pemasangan kabel.Sistem Duct digunakan di kota-kota besar maupun sedang yang sifatnya sudah permanen dan memiliki demand telepon yang tinggi dengan perkembangan jaringan telepon yang cepat. Sistem duct ini juga dimanfaatkan pada jaringan yang penting dan memiliki kapasitas yang besar seperti : kabel penghubung antar sentral telepon, kabel primer dimana dibutuhkan perlindungan yang baik agar tidak mudah rusak. Beberapa keuntungan dengan sistem duct yaitu (1) fleksibel dimana dapat mengikuti perkembangan pelayanan, (2) catuan kabel terlindung dari gangguan mekanik, (3) efektif dimana tidak perlu penggalian berulang bila diadakan ekspansi kapasitas, (4) harga kabel relatif lebih murah dibanding jenis jaringan akses tembaga lainnya, (5) lebih mudah dalam melokalisir gangguan tanpa melakukan penggalian karena sistem dilengkapi manhole, dan (6) umur pemakaian dapat mencapai antara 60-70 tahun (Singapore Telecom, 1994).

 
  clip_image071
 
   
Gambar 24. Contoh Sketsa Jaringan Kabel Duct
 
 
Gambar 25. Blok Diagram Jaringan Kabel Duct (Anonimous, 1995)
 

clip_image073

2.5.4. Jaringan Akses Radio

2.5.4.1. Jaringan Akses Radio Wireless Local Loop (WLL)

Wireless Local Loop (WLL), adalah salah satu jenis jaringan akses radio yang bekerja pada frekuensi 1800-1880 Mhz, digunakan untuk berhubungan antara pengguna jasa telekomunikasi dengan yang lainnya dengan media perangkat radio.

 Terminal pelanggan menggunakan fixed telephone Wireless Local Loop (WLL) dihubungkan secara individu dari Radio Base Station ke Antena di rumah pelanggan, dengan syarat harus memenuhi Line Of Sigth (LOS). Radius terjauh kemampuan sinyal dengan jarak udara maksimal 5 km. Akses Radio WLL bekerja pada frekuensi antara 1800-1880 Mhz dan sinyal yang diterima antena yang paling baik antara – 64 dBm sampai dengan –68 dBm dan kuat sinyal minimal –80 dBm.

clip_image075

 
Gambar 26. Blok diagram jaringan akses Wireless Local Loop(Setyanto, 2000)

 

       
    clip_image077
 
  clip_image078

2.5.4.2. Jaringan Akses Radio Wireless ULTRAPHONE

 

Ultraphone, adalah salah jenis jaringan akses radio yang bekerja pada frekuensi 300-400 Mhz, digunakan untuk berhubungan antara pengguna jasa telekomunikasi dengan yang lainnya melalui media perangkat radio sedang di terminal pelanggan menggunakan fixed telephone Ultraphone yang dihubungkan secara individu dari Radio Base Station ke Antena di rumah pelanggan.

Hambatan yang dapat menghalangi Line Of Sigth adalah obstacle bukit, gunung atau bangunan yang tinggi sedang hambatan pepohonan tidak terlalu berpengaruh. Radius terjauh kemampuan sinyal pada jarak udara mencapai kurang lebih 15 km. Akses Radio Ultraphone ini bekerja pada frequensi antara 300-400 Mhz,sehingga redamannya kecil.

 
Gambar 28. Blok diagram jaringan akses radio Ultraphone

 

clip_image080

 
  clip_image081

2.5.4.3. Jaringan Akses Radio Rural Type IRT 1500 & IRT 2000

Rural IRT 1500,  adalah salah satu jenis jaringan akses radio yang bekerja pada frekuensi 1500 Mhz, dimana akses radio berfungsi sebagai pengganti kabel primer sedang akses tembaga berfungsi sebagai kabel sekunder, di terminal pelanggan menggunakan fixed telephone.

Jaringan jenis ini kombinasi mengunakan akses radio dan akses tembaga. Akses radio merupakan berfungsi sebagai kabel primer sedang akses tembaga berfungsi sebagai kabel sekunder.Jarak jangkauan antara sentral station dengan Remote Station tergantung kebutuhan. Jaringan Akses Radio Rural ini kebanyakan diperuntukan untuk wilayah antara pedesaan dengan perkotaan atau pedesaan yang padat demand. Akses Radio Rural bekerja antara 1.500 Mhz – 2000 Mhz, sehingga redaman cukup tinggi.

 
Gambar 30. Blok diagram jaringan akses Rural IRT 1500(Setyanto, 2000)

 

clip_image083

 
  clip_image087

2.5.4.4. Jaringan Akses Radio CDMA  

Code Devition Multi Access (CDMA), adalah salah satu jenis akses radio yang bekerja pada frekuensi 800-830 Mhz, digunakan untuk berhubungan antara pengguna jasa telekomunikasi dengan yang lainnya, melalui media perangkat radio sedang di terminal pelanggan menggunakan fixed telephone, mobile telephone atau perangkat data lainnya. Jaringan akses radio ini  dihubungkan secara individu dari Radio Base Station ke terminal (pesawat telepon) di rumah pelanggan dengan menggunakan teknologi Code Devision Multi Acces (CDMA) yang bekerja pada frequensi 800-830 Mhz, apabila banyak bangunan tinggi atau bukit yang menyebabkan blankspot maka wilayah tersebut ditempatkan Base Station untuk memperbaiki sinyal penerimaan atau pengiriman.

 
Gambar 32. Blok diagram jaringan akses radio CDMA

 

clip_image089

       
  clip_image092
 
     
Gambar 33. Contoh sketsa jaringan akses radio CDMA

 

2.5.4.5. Jaringan Akses Fiber Optic

Jaringan akses adalah seluruh jaringan yang menghubungkan antara sentral telepon dengan terminal pelanggan. Jaringan akses fiber optic disamping dapat digunakan untuk jaringan akses pelanggan juga dapat digunakan sebagai jaringan penghubung antara sentral telepon dengan sentral telepon yang lain atau sentral telepon dengan sentral transmisi atau sentral transmisi dengan sentral transmisi lainnya. Perkembangan teknologi telekomunikasi yang ada sekarang ini telah menghasilkan banyak alternatif teknologi yang dapat digunakan untuk jaringan akses.

Beberapa jenis teknologi jaringan akses fiber optic berdasarkan implementasi. Jenis Teknologi DLC (Digital Loop Carrier), PON (Passive Optical Network), AON (Aktive Optical Network) merupakan teknologi akses fiber optic yang dirancang untuk berintegrasi dengan kawat tembaga yang banyak digunakan oleh operator telekomunikasi sedang Hybrid Fiber Coax teknologi fiber optic yang banyak berintegrasi dengan operator TV Cable. Data jenis teknologi dan konfigurasi dasar penggunaan teknologi fiber optic sebagai berikut :

Tabel 1. Jenis Teknologi Fiber Optic

No Jenis Teknologi Konfigurasi Dasar Keterangan
1 DLC (Digital Loop Carrier) Konvensional Digunakan untuk point to point Telah banyak digunakan di dunia
2 DLC (Digital Loop Carrier) Flexible Multiplexer Point to point dan pencabangan sinyal optical passive Relatif baru dan belum banyak digunakan.
3 PON (Passive Optical Network) Point to multipoint dan pencabangan dengan sinyal pasif Mulai dioperasikan secara komersial tahun 1994
4 AON (Active Optical Network) Point to multipoint dan pencabangan dengan sinyal aktif Belum banyak digunakan.

Tabel 2. Kapasitas Teknologi Fiber Optic

Jenis Tek.Fiber Optic  Type Lokasi pengirim (sentral) SST Lokasi PenerimaSST
 PON IIIIII

IV

800800800

800

41630

120

 DLC IIIIII

IV

120240480

1920

120240480

1920

clip_image094

 
   
Gambar 34. Blok diagram jaringan akses Fiber Optic (duct)

 

 

 

 

 

 

 

clip_image095

 

 

 
Gambar 35. Sketsa instalasi jaringan Fiber Optic (duct)

 

Statistik Blog

  • 220,250 hit
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.908 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: