Mengenal Obyek Wisata Alam “LEGENDA SANGKURIANG” Gunung Tangkuban Perahu Salah Satu Gunung Berapi Yang masih aktif Yang Penuh Dengan Misteri.

TANGKUBAN PERAHU 03 Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung,hamparan rimbun pohon pinus dan kebun teh di sekitarnya, memperindah pemandanam. Ketinggian  Gunung Tangkuban Parahu yaitu 2.084 meter dari permukaan laut. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur,  Uap belerang yang keluar dari gunung Tangkuban Perahu baunya sangat menyengat.Gunung Tangkuban Parahu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.Cerita legenda Gunung Tangkuban Parahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat anak menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.Tempat Wisata Gunung Tangkuban Perahu merupakan sebuah kawasan wisata yang mempesona yang berkaitan erat dengan legenda yang sangat kental di masyarakat Sunda. Menurut legenda, bahwa bentuk Gunung Tangkuban Perahu yang menyerupai sebuah kapal atau perahu besar terbalik adalah akibat dari perselisihan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi.
Terlepas dari legenda diatas, saat ini Gunung Tangkuban Perahu menjadi salah satu obyek wisata yang banyak diminati para turis domestik bahkan turis mancanegara. Di tangkuban perahu terdapat kawah yang berwarna putih yang sangat indah hasil dari letusan gunung tersebut.
Obyek wisata yang terletak di lembang Bandung ini sangat didukung dengan akomodasi yang lengkap mulai dari penginapan seperti hotel, villa dan Guest House. Selain itu Restoran dan kios-kios sederhana yang menyajikan makanan semua tersedia di sekitar kawasan ini sehingga memudahkan wisatawan untuk memilih sesuai keinginan dan kemampuannya.
Saat musim liburan tiba, tempat ini menjadi salah satu
tempat wisata favorit di Bandung Jawa Barat yang banyak mendapat kunjungan, walaupun sebenarnya Tangkuban Perahu adalah gunung yang masih aktif yang bisa saja suatu saat ditutup karena aktivitas gunung yang bisa mengancam keselamatan pengunjung, hal tersebut telah terbukti wisata Gunung Tangkuban perahu pernah di tutup untuk umum diakbiatkan oleh aktivitas gunung berapi yang dinyatakan membahayakan.
Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Di antara tanda aktivitas gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunungnya, di antaranya adalah di kasawan Ciater, Subang. Gunung Tangkuban Parahu pernah mengalami letusan kecil pada tahun 2006, yang menyebabkan 3 orang luka ringan.Keberadaan gunung ini serta bentuk topografi Bandung yang berupa cekungan dengan bukit dan gunung di setiap sisinya menguatkan teori keberadaan sebuah telaga besar yang kini merupakan kawasan Bandung. Diyakini oleh para ahli geologi bahwa kawasan dataran tinggi Bandung dengan ketinggian kurang lebih 709 m di atas permukaan laut merupakan sisa dari danau besar yang terbentuk dari pembendungan Ci Tarum oleh letusan gunung api purba yang dikenal sebagai Gunung Sunda dan Gunung Tangkuban Parahu merupakan sisa Gunung Sunda purba yang masih aktif. Fenomena seperti ini dapat dilihat pada Gunung Krakatau di Selat Sunda dan kawasan Ngorongoro di Tanzania, Afrika. Sehingga legenda Sangkuriang yang merupakan cerita masyarakat kawasan itu diyakini merupakan sebuah dokumentasi masyarakat kawasan Gunung Sunda Purba terhadap peristiwa pada saat itu.

Akses Jalan Menuju Ke Tangkuban Perahu
Ada beberapa rute jalan yang bisa dilewati wisatawan untuk sampai di tempat wisata Gunung Tangkuban Perahu, rute perjalanan ini bisa di lewati oleh kendaraan Pribadi maupun kendaraan Umum.
Dari  berbagai   kota di Indoneisa   yang pertama adalah menuju Terminal Leuwipanjang (Bandung), dari terminal Leuwipanjang dilanjutkan naik bus jurusan Bandung – Indramayu via Subang  turun di lokasi yaitu di pertigaan gerbang Tangkubanparahu atas (sebelum tugu perbatasan Bandung Barat – Subang)

  • Ke  Tangkuban perahu melalui jalur subang, yaitu tujuan pertama ke subang kota lalu dari Subang Kota naik elf jurusan Pamanukan-Subang-Bandung atau bis Indramayu-Subang-Bandung kemudian turun di pertigaan gerbang Tangkubanparahu atas.
  • Menggunakan   Kereta   Api. Wisatawan   dari  luar  kota turun di Stasiun Hall, dari stasiun kemudian dilanjutkan naik angkot L300 jurusan Stasiun Hall – Lembang di perempatan Lembang-Maribaya-Tangkubanparahu, lalu bisa dilanjutkan naik angkot Lembang – Cikole yang akan mengantar hingga ke pinggir kawah gunung Tangkubanparahu.
  • Jalur yang paling  sering  digunakan  untuk  sampai  di Tangkuban perahu adalah melewati pintu tol Pasteur, jalur ini dianggap rute yang paling dekat. Berikut adalah tahapan rute yang harus dilewati untuk sampai di Tangkuban perahu menggunakan kendaraan pribadi.. Semua wisatawan keluar di pintu tol Pasteur – dilanjutkan ke Jl. Dr. Djunjunan – lanjut ke Pasirkaliki – melewati Sukajadi – Setiabudi – Lembang lalu ke lokasi Tangkubanparahu (Gerbang Atas).
  • Jika rute tersebut mengalamai kemacetan atau hambatan lainnya bisa menggunakan Jalan alternatif yaitu keluar dari pintu tol Sadang atau bisa juga melewati keluar pintu tol Baros.

Source  :http://www.tempatwisatadijawabarat.com/2012/10/gunung-tangkuban-perahu.html

Taman Nasional “GUNUNG LEUSER” Surga Flora dan Fauna yang Bermanfaat Bagi Penelitian dan Pariwisata Alam

leuser 000

Taman Nasional ini mengambil nama dari Gunung Leuser, dengan ketinggian 3404 meter di atas permukaan laut. Taman nasional ini meliputi ekosistem asli dari pantai sampai pegunungan  yang diliputi oleh hutan lebat khas hujan tropis, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.Taman Nasional Gunung Leuser memiliki 3 (tiga) fungsi yaitu : a. perlindungan sistem penyangga kehidupan; b. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; c. pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.Taman Nasional Gunung Leuser merupakan daerah  ekosistem hutan pantai, dan hutan hujan tropika dataran rendah sampai pegunungan. Sebagian besar  kawasan ditutupi oleh lebatnya hutan Dipterocarpaceae dengan beberapa sungai dan air terjun. Terdapat tumbuhan langka dan khas yaitu daun payung raksasa (Johannesteijsmannia altifrons), bunga raflesia (Rafflesia atjehensis dan R. micropylora) serta Rhizanthes zippelnii yang merupakan bunga terbesar dengan diameter 1,5 meter. Selain itu, terdapat tumbuhan yang unik yaitu ara atau tumbuhan pencekik. Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional antara lain mawas/orangutan (Pongo abelii), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Capricornis sumatraensis), rangkong (Buceros bicornis), rusa sambar (Cervus unicolor), dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis sumatra.

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir. Berdasarkan kerjasama Indonesia-Malaysia, juga ditetapkan sebagai “Sister Park” dengan Taman Negara National Park di Malaysia.Untuk menikmati panorama alam, lembah, sumber air panas, danau, air terjun, pengamatan satwa dan tumbuhan seperti bunga raflesia, orangutan, burung, ular dan kupu-kupu.Bohorok. Tempat kegiatan rehabilitasi orangutan dan wisata alam berupa panorama sungai, bumi perkemahan dan pengamatan burung.Kluet. Bersampan di sungai dan danau, trekking pada hutan pantai dan wisata goa. Daerah ini merupakan habitat harimau Sumatera.Sekundur. Berkemah, wisata goa dan pengamatan satwa.Ketambe dan Suak Belimbing. Penelitian primata dan satwa lain yang dilengkapi rumah peneliti dan perpustakaan.Gunung Leuser (3.404 m. dpl) dan Gn. Kemiri (3.314 m. dpl). Memanjat dan mendaki gunung. Arung jeram di Sungai Alas. Kegiatan arung jeram dari Gurah-Muara Situlen-Gelombang selama tiga hari.Diterimanya Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera ke daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 2004, membuat Taman Nasional Gunung Leuser juga masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, bersama dengan Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.Sebagai dasar legalitas dalam rangkaian proses pengukuhan kawasan hutan telah dikeluarkan Keputusan Menteri Kehutanan nomor: 276/Kpts-II/1997 tentang Penunjukan Gunung Leuser seluas 1.094.692 hektar yang terletak di Provinsi daerah Istimewa Aceh dan Sumatera Utara. Dalam keputusan tersebut disebutkan bahwa Gunung Leuser terdiri dari gabungan:

  • Suaka Margasatwa Gunung Leuser  : 416.500 hektaree
  • Suaka Margasatwa Kluet  : 20.000 hektaree
  • Suaka Margasatwa Langkat Barat  : 51.000 hektaree
  • Suaka Margasatwa Langkat Selatan  : 82.985 hektaree
  • Suaka Margasatwa Sekundur  : 60.600 hektaree
  • Suaka Margasatwa Kappi  : 142.800 hektaree
  • Taman Wisata Gurah  : 9.200 hektaree
  • Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas  : 292.707 hektar.

Taman nasional ini terdapat 130 jenis mamalia,[1] di antaranya orangutan sumatera (Pongo pygmaeus abelii), sarudung (Hylobates lar), siamang (Hylobates syndactilus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestriana) dan kedih (Presbytis thomasi). Satwa karnivora di antaranya: macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus), harimau sumatera (Phantera tigris Sumatraensis). Satwa herbivora yang ada di taman nasional ini adalah gajah sumatera (Elephas maximus), badak sumatera (Dicerorhinus sumatraensis), dan rusa sambar (Cervus unicolor).Diperkirakan ada sekitar 89 spesies langka dan dilindungi berada di Taman Nasional Gunung Leuser, di antaranya:

Diperkirakan ada sekitar 325 jenis burung di Taman Nasional Gunung Leuser, di antaranya: rangkong badak (Buceros rhinoceros). Fauna reptilia dan amphibia didominasi ular berbisa dan buaya (Crocodillus sp). Di sini terdapat ikan jurung, ikan endemik Sungai Alas yang bisa mencapai panjang 1 meter. Di sini juga terdapat kupu-kupu-kupu.

Source : http://www.dephut.go.id

http://www.wikipedia.org

Keajaiban Dunia “CANDI PRAMBANAN” Karya Peninggalan Sejarah Yang Menakjubkan Bagi Wisatawan

prambanan 00

Dibangun pada abad ke-10, ini adalah candi terbesar yang didedikasikan untuk Siwa di Indonesia. Naik di atas puncak terakhir, konsentris tiga candi dihiasi dengan relief yang menggambarkan epik Ramayana, yang menggambarkan tiga dewa besar Hindu (Siwa, Wisnu dan Brahma) dan tiga candi yang didedikasikan untuk hewan yang melayani mereka. Candi Prambanan juga disebut Loro Jonggrang, Candi Sewu, Candi Bubrah  dan Candi Lumbung. Candi Prambanan sendiri merupakan kompleks yang terdiri dari 240 candi. Semua kuil yang disebutkan membentuk Prambanan dengan Taman Arkeologi dan dibangun selama masa kejayaan dinasti Sailendra pada abad ke-8 Masehi. Candi ini terletak di perbatasan antara dua provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah di Pulau Jawa. Sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO, adalah situs terbesar Hindu di Indonesia, dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Hal ini ditandai dengan arsitekturnya yang  tinggi dan runcing, khas arsitektur candi Hindu, dan dengan menjulang 47 meter-tinggi (154 ft) bangunan tengah dalam kompleks besar kuil individu. Prambanan menarik banyak pengunjung dari seluruh dunia.

Sementara Loro Jonggrang, yang berasal dari abad ke-9, adalah contoh brilian dari agama Hindu bas-relief, Sewu, dengan empat pasang  Dwarapala patung-patung raksasa, merupakan kompleks Budha terbesar di Indonesia termasuk candi Lumbung, Bubrah dan Asu (Candi Gana) . Kuil-kuil Hindu yang dihiasi dengan relief yang menggambarkan versi Indonesia epik Ramayana yang adalah karya ukiran batu. Ini dikelilingi oleh ratusan kuil yang telah diatur dalam tiga bagian yang menunjukkan arsitektur  bangunan batu dan arsitektur dari abad ke-8 Masehi di Jawa. Dengan lebih dari 500 candi, Candi Prambanan mewakili tidak hanya harta arsitektur dan budaya, tetapi juga bukti berdiri agama hidup bersama damai masa lalu.

Integritas

Candi Prambanan  terdiri dari dua kelompok bangunan yang meliputi Loro Jonggrang, Sewu kompleks, Lumbung, Bubrah dan Asu (Gana). 508 batu candi dari berbagai bentuk dan ukuran yang baik dalam kondisi lengkap dan diawetkan atau telah dipertahankan sebagai reruntuhan. Situs ini mencakup semua elemen yang diperlukan untuk mengungkapkan makna yang luar biasa dan terpelihara dengan baik. Tidak ada ancaman dari pembangunan atau kelalaian; namun wilayah ini rentan terhadap ancaman alam seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Keaslian

Candi Prambanan  berisi struktur. Kuil-kuil runtuh akibat gempa, letusan gunung berapi dan pergeseran kekuasaan politik pada awal abad ke-11, dan mereka ditemukan kembali pada abad ke-17. Bangunan ini tidak pernah mengungsi atau diubah. Pekerjaan restorasi telah dilakukan sejak tahun 1918, baik dalam metode tradisional asli dengan susunan batu dan metode modern menggunakan beton untuk memperkuat struktur candi. Meskipun pekerjaan restorasi ekstensif telah dilakukan di masa lalu dan baru-baru ini setelah gempa bumi 2006.

Perlindungan dan persyaratan Pengololaan

Candi Prambanan  telah ditunjuk sebagai Bagunan Budaya Nasional pada tahun 1998 dan hukum nasional yang dikeluarkan pada tahun 2010 juga mendukung perlindungan dan pelestarian bangunan. Manajemen Prambanan ditetapkan  dalam Keputusan Presiden Tahun 1992 yang menetapkan 77 ha yang meliputi bangunan di bawah kepemilikan pemerintah pusat. Daerah ini dibagi menjadi dua zona. Pengelolaan Wilayah 1 atau daerah dalam batas dilakukan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di bawah dua kantor regional yang berbeda, yaitu Pelestarian Kantor Arkeologi Yogyakarta dan Jawa Tengah. Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko Taman Wisata  bertanggung jawab untuk Zona 2 yang terdiri dari zona penyangga. Dalam rangka melaksanakan operasi standar untuk pengamanan bangunan, pemerintah telah memiliki peraturan mengenai daerah obyek vital nasional. Semua aturan telah diberlakukan dengan baik dan dilaksanakan.

Dalam rangka meningkatkan pengelolaan bangunan, pemerintah mengeluarkan undang-undang pada tahun 2007 dan peraturan pemerintah tahun 2008 tentang tata ruang nasional yang berarti bahwa perencanaan tata ruang di daerah Warisan Budaya Dunia akan diprioritaskan. Situs Prambanan telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan strategis nasional yang terdiri dari Senyawa Candi Prambanan dan lain-lain yang terkait tetap candi. Untuk memastikan pengamanan jangka panjang properti, manajemen terpadu dan regulasi yang mendukung pelestarian diperlukan.

Rencana Aksi 2007 telah dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat setempat di sekitar bangunan. Kesejahteraan masyarakat lokal di sekitar Candi yang terkena dampak gempa bumi 27 Mei 2006, kini meningkatkan dengan pemulihan kegiatan ekonomi biasa dan khususnya di sektor industri kreatif.Candi Siwa belum direhabilitasi tetapi kegiatan penelitian atau studi teknis kuil Siva telah dilakukan pada tahun 2010 dan 2011 Hasilnya telah dibahas di tingkat nasional dan internasional dengan kesimpulan bahwa masih perlu dilakukan penelitian untuk menentukan metode penanganan Siva Temple, termasuk pemantauan melalui studi seismograf dan retak meteran secara berkala.Prambanan, dinamai desa, adalah kompleks candi terbesar di Jawa. Hal ini sebenarnya sebuah kompleks candi Hindu besar sekitar 15 km utara-timur dari Yogyakarta. Didedikasikan untuk tiga dewa Hindu yang besar, candi ini dengan relief yang dihiasi merupakan contoh luar biasa dari Siva seni di Indonesia dan kawasa.Semua ada 224 candi di seluruh kompleks,  berisi 16 candi,  candi Siva  paling signifikan diapit di utara oleh candi Brahma dan ke selatan dengan Candi Wisnu. Ketiga karya kuno arsitektur Hindu secara lokal disebut sebagai Candi Prambanan atau Candi Lorojonggrang (Slender Maiden).  Di tengah berdiri kuil-kuil yang didedikasikan untuk tiga dewa besar Hindu dan tiga candi kecil yang didedikasikan untuk kendaraan hewan mereka (Bull untuk Siwa, Brahma dan Elang untuk Swan untuk Wisnu). Candi kecil lainnya yang terletak di gerbang masuk atau di luar enceinte. Candi Siva  memiliki empat patung: terletak di ruang tengah adalah patung Siwa; di ruang utara berdiri patung Dewi Durga Mahisasuramardhini; di ruang barat berdiri patung Ganesya; dan ruang selatan berisi arca Agastya. Di dalam candi Brahma ada Brahma patung, dan di Candi Wisnu ada patung Wisnu. Di Candi Wisnu diukir kisah Kresnayana, sedangkan candi Brahma rumah cerita terus menerus dari Ramayana. Candi Siva, Vishnu dan Brahma yang dihiasi dengan relief yang menggambarkan periode Ramayana (sejarah pahlawan Hindu Rama, ditulis sekitar tahun 300 M).

Source: UNESCO/CLT/WHC

Wonders of the World "TEMPLE BROBUDUR" The Amazing Work of Historical

brobudur 20

The History explained that, Borobudur Temple was founded can not know for certain, but estimated according writings framed original foot of Borobudur reliefs (Karwa Wibhangga) shows similar to that in the letters of the inscription get at the end of the 8th century. From the evidence it can be concluded that Borobudur was founded around the year 800 AD the above conclusion it was in accordance with the framework of Indonesian history in general and the history that is in the area of Central Java in the period between the 8th century and mid-century 9 in the famous golden century Sailendra dynasty. This triumph marked on the rise and some of the temples on the slopes of the mountain with a typical Hindu building while the dotted plains are typical Buddhist building. Thus the Borobudur Temple was built by Sailendra dynasty famous in history because of efforts to uphold and glorify Buddhism. Borobudur is a wonder of the world between the towering lowland sekelilingnya.Tidak never imagined seeing the greatest work of art is the work of a very amazing.

Borobudur Temple is a religious shrine of Buddha which is located in Magelang , Central Java , Indonesia . The location of the temple is approximately 100 km in the southwestof Semarang , 86 miles to the west of Surakarta , 40 km from the city of Yogyakarta .Brobudur temple-shaped stupa . Borobudur is the largest Buddhist temple or shrine in the world, and one of the largest Buddhist monument in the world. This temple consists of six square-shaped terrace upon which there are three circular courtyard, the walls adorned with 2,672 panels relief and originally contained 504 statues of Buddha .Borobudur has the most complete collection of Buddhist reliefs in the world and. The main stupa in the middle of the biggest teletak well as crowning the building, surrounded by three rows of 72 circular perforated stupas in which there is a statue of Buddha sitting cross-legged in the lotus position perfectly with the mudra (hand position) Dharmachakra mudra (turning the wheel of dharma) is a model .Candi universe and built as a shrine to honor the Buddha also functions as a place of pilgrimage to guide mankind to switch from natural lust to enlightenment and wisdom according to the teachings of Buddha.The pilgrims enter through the east side starting at the base of the temple ritual by walking this sacred building circling clockwise, while continuing to go up to the next steps through the three levels of the realm in Buddhist cosmology. The third level isKamadhatu (the realm of lust), Rupadhatu (tangible realm), and Arupadhatu (intangible realm). In this journey of pilgrims walking through a series of hallways and stairs with no less than 1,460 watched the beautiful relief panels carved on walls and fences.

According to historical evidence, Borobudur was abandoned in the 14th century as the weakening of the influence of Hindu and Buddhist kingdoms in Java and started the influence of Islam. The world began to realize the existence of this building since it was discovered in 1814 by Sir Thomas Stamford Raffles , who was then serving as Governor-General of British over Java. Since then it has undergone a series of Borobudur rescue and restoration efforts. Largest restoration project was held in the period 1975 to 1982 for the efforts the Government of the Republic of Indonesia andUNESCO , then these historical sites included in the list of World Heritage Sites . Borobudur is still used as a place of religious pilgrimage; each year Buddhists who come from all over Indonesia and abroad gather at Borobudur to commemorate Trisuci Vesak .In the world of tourism, tourism Borobudur is Indonesia’s single most visited tourist. InIndonesian , ancient religious buildings called temples ; temple term is also used more broadly to refer to all the ancient buildings originating from the Hindu-Buddhist in the archipelago, such as gates , gate , and petirtaan (swimming baths and showers). The origins of the name Borobudur is not clear though is the original name of the temple in Indonesia mostly unknown. The name Borobudur was first written in the book History of Java works of Sir Thomas Raffles . Raffles wrote about a monument called borobudur, but there are no older documents mentioning the exact same name. The only old Javanese manuscript that hints of the existence of the sacred Buddhist building may refer to Borobudur is Nagarakretagama , written by MPU Prapanca in 1365. name Bore-Budur, which is then written Borobudur, probably written Raffles in English grammar to refer to the village it is closest to the village temple Bore (Boro); most temples is often named after the village where the temple stood. Raffles also suspect that the term ‘Budur’ might be associated with the term Buddhism in ancient Javanese language, which means, it is meaningful, ancient Boro, but other archaeologists assume that the name is derived from the term bhudhara Budur meaning mountain.

Many theories that attempt to explain the name of this temple. One of them states that the name is probably derived from the word Sambharabhudhara means mountain(bhudara) where the slopes are located terraces. In addition there are severaletymologies of other people. Suppose that the word comes from the greeting Borobudur Buddhas of Borobudur as a shift in the sound becomes. Another explanation is that the name is derived from two words coal and beduhur. The word bara said to have originated from the word monastery , while there are also other explanations where the coal comes from Sanskrit which means temple or monastery and beduhur meaning is high, or to remind the Balinese language means over. So the point is a monastery orhostel located on high ground. Historian JG de Casparis in his dissertation to obtain his doctorate in 1950 argued that Borobudur is a place of worship. Based Karangtengah inscriptions and Tri Tepusan , Casparis estimate Borobudur founder was the king ofMataram of dynasty dynasty named Samaratungga , who do construction around the year 824 AD . giant new building could be completed at the time of her daughter, QueenPramudawardhani . Borobudur Development estimated take half a century. In Karangtengah inscriptions also mentioned about the bestowal of land sima (tax-free land) by Cri Kahulunan (Pramudawardhani) to maintain Kamulan called Bhūmisambhāra. Kamulan term itself comes from the word meaning first place origins, sacred building to honor the ancestors, the ancestors of the dynasty Sailendra possibility. Casparis Sambhāra Bhudhāra estimates that Bhumi in Sanskrit which means Mount of the set of ten levels boddhisattwa virtue, is the original name of Borobudur.

Borobudur has no worship spaces like temples other.May there are long hallways which is a narrow road. The hallways surrounding the walled temple level by level. In the halls of this is expected Buddhist ceremonies walk around the temple to the right. The form of the building without room and terraced structure is believed to be the development of a form of punden staircase, which is a form of original architecture from prehistoric Indonesia. Borobudur structure when viewed from above form Mandala.Struktur Borobudur structure does not use cement at all, but the interlock system is like Lego blocks that can be attached without glue.

NUMBER OF IMAGES
Buddha statue numbered 504 pieces including the following:
Buddha statue found in niches: 432 pieces
While on the terraces I, II, III totaled 72 pieces
Total: 504 pieces
The composition of the Buddha statue as follows:

  • Step I: 104 Statue of Buddha

  • Step II: 104 Statue of Buddha

  • Step III: 88 Buddha Statue

  • Step IV: 22 Buddha Statue

  • Step V: 64 Buddha Statue

  • Terrace Round I: 32 Buddha Statue

  • Terrace Round II: 24 Buddha Statue

  • Patio Round III: 16 Buddha Statue
    Total: 504 Buddha Statue

At first glance it looks like Buddha statue everything but the truth is there is a difference and the difference is very clear also that distinguish each other is in his attitude which is called Mudra and is characteristic for each patungsikap hand Buddha statue in Borobudur temple there are 6 kinds just because a wide therefore have a wide mudra in facing all directions (North West and South East) at the V and the step rupadhatu arupadhatu generally describe the same purpose, the principal amount of the existing 5 mudra mudra it is Bhumispara fifth-Wara-Mudra Mudra, Dhayana-Mudra, Mudra Abhaya-, Dharma-Chakra Mudra.

TOTAL STATUE LION
In addition Borobudur Buddhist statues there are also lions lions the amount should not be less than 32 pieces but if the count is now dwindling due to various reasons the only large lion statues are on the western side of the page are also facing west as if he were keeping Borobudur Temple building magnificent and fascinating.

TOTAL STUPA

  • Parent Stupa
    Have a larger size than other stupas and is located in the middle of the top of the entire monument is mhkota building Borobudur Stupa midline parent + 9.90 M highest peaks in call pinakel / Yasti Cikkara, located above Padmaganda and also trletak in line Harmika.

  • Stupa Perforated / Overlay
    The meaning or overlay perforated stupa Stupa is located on the terrace I, II, III in which there is a statue of Buddha.
    In perforated stupa Borobudur whole number 72 Fruit, stupas are located at the level of Arupadhatu
    Terrace I contained 32 Stupa
    Terrace II there were 24 Stupa
    Terrace III contained 16 Stupa
    Number 72 Stupa

  • Small Stupa
    Small stupa shaped almost the same with the other stupas that menojol only difference is the smaller size of the stupa the other, as if – if a building decoration Borobudur keberadaanstupa occupy niches – niches in step II to V while saampai step on the first step Keben and partly in the form of a small stupa Stupa there is a small amount of fruit in 1472.

  • Relief
    At every level carved reliefs on temple walls. These reliefs read according clockwise or called mapradaksina in Old Javanese language derived from Sanskrit meaning daksina is east.These reliefs variety of story content, among other reliefs jātaka.Pembacaan stories stories are always the starting relief, and ends on the east side of the gate in every level, starting on the left and on the right end of the gate It so obviously that the east is the ladder up the real (main) and toward the top of the temple, it means that the temple facing the east while the other sides of similar right.
    In sequence, the story on meaningful temple reliefs briefly as follows:

  1. Karmawibhangsa
    In accordance with the symbolic meaning on the foot of the temple, reliefs which decorate the walls of the hidden shelf that illustrate the law of karma. Rows of relief is not a story series (series), but in every frame illustrates a story that has a causal correlation. Relief is not just to give an idea of the human moral turpitude accompanied by penalties that will be obtained, but also human and reward good deeds. An overall depiction of human life in the circle of birth – life – death (samsara) that never ends, and by Buddhism chain is exactly what will be terminated for perfection.

  2. Lalitawistara
    History is a depiction of the Buddha in a row of reliefs (but not a complete history) that starts from the Buddha’s descent from heaven Tusita, and ends with the first sermon in the Deer Park near the city of Banaras. These reliefs lined the stairs on the south side, after a row exceeded the relief of 27 frames starting from the east side of the ladder. To-27 frames that describe the busyness, both in heaven and in the world, as a preparation to welcome the presence of the last incarnation of Buddha Bodhisattva as the candidate. The reliefs depict the birth of the Buddha in this arcapada as Prince Siddhartha, son of King Suddhodana and Maya Empress of State Kapilavastu. Relief totaled 120 frames, which ends with the first sermon, which is symbolically expressed as a Screening Wheel of Dharma, the Buddha’s teaching is called dharma which also means “law”, whereas dharma is represented as a wheel.

  3. Jataka & Awadana
    Jataka are stories about the Buddha before it was born as Prince Siddhartha. Protrusion of contents is the subject of good works, which distinguishes the Bodhisattvas of any other creature. Indeed, the collection service / good deeds is a stage in the preparation of the business to the level of Buddhahood an.Sedangkan Awadana, basically almost the same as the Jataka but the culprit is not the Bodhisattvas, but other people and stories collected in the book which means noble deeds Diwyawadana sainthood , and a book or a hundred stories Awadanasataka Awadana. In the reliefs of Borobudur and Awadana Jataka, treated equally, meaning they are in the same row without a distinguishable. The set of the most well-known of the life of the Bodhisattvas is Jatakamala or strands Jataka stories, Aryasura and poet who lived in the 4th century AD.

  4. Gandawyuha
    A row of reliefs adorn the walls of the hall to-2, is a story that wanders Sudhana tirelessly in his quest for knowledge about the Supreme Truth by Sudhana. Description of the frame 460 based on Mahayana Buddhist scripture entitled Gandawyuha, and for the lid on the story of another Bhadracari.

  5. Buddha statue
    In addition to the form of Buddha in Buddhist cosmology is engraved on the wall, at the Borobudur buddha statues there are a lot of sitting cross-legged in the lotus position and show mudras, or symbolic hand position tertentu.Patung buddha in the recesses in Rupadhatu level, governed by the line on the outside of the balustrade. Dwindling on the side of it. Balustrade of the first row consists of 104 niches, the second line 104 niches, recesses 88 third row, fourth row 72 niches, and the fifth row 64 niches. There are a total number of 432 Buddha statues in the Arupadhatu Rupadhatu.Pada level (three circular courtyard), Buddha statues are placed in stupas berterawang (perforated).
    In the court of the first round there are 32 stupas, the second court of the 24 stupas, and the third courtyard there are 16 stupas, all total 72 stupas.
    Of the original number as many as 504 Buddha statues, over 300 have been damaged (mostly headless) and 43 missing (since the monument’s discovery, heads of Buddha is often stolen as collector’s item, mostly by museums abroad) .Simply buddha statues at a glance all looks similar , but there are subtle differences among them, namely the attitude mudras or hand positions.
    There are five groups of mudra: North, East, South, West, and Central, all based on five main directions of the compass according to Mahayana teachings. Fourth balustrade has four mudras: North, East, South, and West, where each buddha statues facing the direction of the show typical mudra. Buddha statues at the fifth balustrades and statues of buddha in the 72 stupas on the upper court berterawang showing mudras: Middle or Center. Each mudra symbolize five Dhyani Buddhas; each with its own symbolic meaning.

Source: http://www.brobudurpark.com

Loading …

Keajaiban Dunia”CANDI BROBUDUR” Karya Peninggalan Sejarah Yang Menakjubkan

brobudur 11111

Sejarah menjelaskan bahwa,  Candi Borobudur itu didirikan tidaklah dapat di ketahui secara pasti, namun diperkiraan sesuai tulisan  yang ada pigura relief kaki asli Candi Borobudur (Karwa Wibhangga) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir abad ke-8. Dari bukti-bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800 M. Kesimpulan tersebut di atas itu ternyata sesuai dengan kerangka sejarah Indonesia pada umumnya dan juga sejarah yang berada di daerah jawa tengah pada periode antara abad ke-8 dan pertengahan abad ke-9 di terkenal dengan abad keemasan Wangsa Syailendra. Kejayaan ini di tandai di bangunnya beberapa candi yang di lereng-lereng gunung dengan khas bangunan hindu sedangkan yang bertebaran di dataran-dataran adalah khas bangunan Budha. Dengan demikian bahwa Candi Borobudur di bangun oleh wangsa Syailendra yang terkenal dalam sejarah karena usaha untuk menjunjung tinggi dan mengagungkan agama Budha. Borobudur yang menjadi keajaiban dunia menjulang tinggi antara dataran rendah di sekelilingnya.Tidak akan pernah dibayangkan  melihat karya seni terbesar yang merupakan hasil karya sangat mengagumkan.

Candi Borobudur merupakan tempat suci agama  Buddha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta,40 km dari Kota  Yogyakarta. Candi Brobudur  berbentuk stupa. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia. Candi ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).Candi ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar.

Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisata.Dalam Bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi; istilah candi juga digunakan secara lebih luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran pemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku Sejarah Pulau Jawa karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberi petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah ‘Budur’ mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti purba, maka bermakna, Boro purba, tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya gunung (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan para Buddha yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata bara dan beduhur. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah tinggi, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti di atas. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi. Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa, adalah nama asli Borobudur.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain.Hanya ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit.  Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.  Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur Mandala.Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.

JUMLAH PATUNG
Patung Budha berjumlah 504 buah diantaranya sebagai berikut:
Patung Budha yang terdapat pada relung-relung : 432 buah
Sedangkan pada teras-teras I, II, III berjumlah : 72 buah
Jumlah Total : 504 buah
Susunan patung Budha sebagai berikut:

 

  • Langkah I    : 104  Patung Budha
  • Langkah II   : 104  Patung Budha
  • Langkah III  :  88   Patung Budha
  • Langkah IV  :   22  Patung Budha
  • Langkah V   :   64  Patung Budha
  • Teras Bundar I   :   32 Patung Budha
  • Teras Bundar II  :   24 Patung Budha
  • Teras Bundar III :   16 Patung Budha
    Jumlah Total      : 504 Patung Budha

Sepintas patung Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada  perbedaannya perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu sama lainya adalah dalam sikap tangannya yang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap patungsikap tangan patung Budha di Candi Borobudur ada 6 macam hanya saja karena macam oleh karena macam mudra yang di miliki menghadap semua arah (Timur Selatan Barat dan Utara) pada bagian rupadhatu langkah V maupun pada bagian arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama maka jumlah mudra yang pokok ada 5 kelima mudra itu adalah Bhumispara-Mudra Wara-Mudra, Dhayana-Mudra, Abhaya- Mudra, Dharma Cakra-Mudra.

JUMLAH PATUNG SINGA
Pada Candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung singa seharusnya tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang jumlahnya berkurang karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada pada halaman sisi Barat yang juga menghadap ke barat seolah-olah sedang menjaga bangunan Candi Borobudur yang megah dan mempesona.

JUMLAH STUPA

  • Stupa Induk
    Memiliki ukuran  lebih besar dari stupa-stupa lainya dan terletak di tengah-tengah paling atas yang merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur, garis tengah Stupa induk + 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan juga trletak di garis Harmika.
  • Stupa Berlubang/ Terawang
    Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III di mana di dalamnya terdapat patung Budha.
    Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa-stupa tersebut berada pada tingkat Arupadhatu
    Teras I terdapat 32 Stupa
    Teras II terdapat 24 Stupa
    Teras III terdapat 16 Stupa
    Jumlah 72 Stupa
  • Stupa kecil
    Stupa kecil berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja perbedaannya yang menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah – olah menjadi hiasan bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini menempati relung – relung pada langkah ke II saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian berupa Stupa kecil jumlah stupa kecil ada 1472 Buah.
  • Relief
    Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka.Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu.Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
    Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :
  1. Karmawibhangsa
    Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir – hidup – mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.
  2. Lalitawistara
    Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti “hukum”, sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.
  3. Jataka & Awadana
    Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.
  4. Gandawyuha
    Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.
  5. Arca Buddha
    Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu.Patung buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung , baris keempat 72 relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat Rupadhatu.Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang).
    Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72 stupa.
    Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan tanpa kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering dicuri sebagai barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan.
    Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.

        Source : http://www.brobudurpark.com

“Taman Nasional Bromo Tengger Semeru” Panorama Spektakuler Gunung Api dan Padang Pasir, Salah Satu Obyek Wisata Alam Yang Sangat Terkenal di Indonesia Maupun Mancanegara.

bromo maskot

Gunung Bromo (Indonesia: Gunung Bromo), merupakan gunung berapi aktif. Bromo memiliki ketinggiansekitar  2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Daerah puncak merupakan salah satu tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di Jawa Timur. Gunung berapi ini milik Bromo Tengger Semeru merupakan Taman Nasional. Nama Bromo berasal dari bahasa Jawa ‘Brahma, pencipta dewa Hindu. Dari puncak Gunung Penanjakan di ketinggian 2.770 m, wisatawan dari seluruh dunia datang untuk melihat sunrise Gunung Bromo. Pemandangannya sungguh menakjubkan dan yang akan Anda dengar hanya suara jepretan kamera wisatawan saat menangkap momen yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Saat sunrise sangat luar biasa dimana Anda akan melihat latar depan Gunung Semeru yang mengeluarkan asap dari kejauhan dan matahari bersinar terang naik ke langit.

Gunung Bromo berada di tengah-tengah dataran luas yang disebut “Laut Pasir” Daerah cagar alam yang dilindungi sejak 1919. Cara khas untuk mengunjungi Gunung Bromo dari desa pegunungan terdekat Cemoro Lawang. Perjalanan ke gunung berapi dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit, tetapi juga memungkinkan untuk menggunakan  mobil jeep yang sudah teroganisir.

Dari puncak Gunung Penanjakan di ketinggian 2.770 m, wisatawan dari seluruh dunia datang untuk melihat sunrise Gunung Bromo. Pemandangannya sungguh menakjubkan dan yang akan Anda dengar hanya suara jepretan kamera wisatawan saat menangkap momen yang tidak bisa didapatkan di tempat lain. Saat sunrise sangat luar biasa dimana Anda akan melihat latar depan Gunung Semeru yang mengeluarkan asap dari kejauhan dan matahari bersinar terang naik ke langit.Suku Tengger adalah warga asli yang mendiami kawasan Gunung Bromo dan wisalayah Mount Bromo National Park Tengger Mount Semeru, di Jawa Timur. Masyarakat suku Tengger sejak awal merupakan penganut Hindu yang taat dan sedikit berbeda dengan yang ada di Bali. Suku Tengger adalah pemeluk agama Hindu lama dan tidak seperti pemeluk agama Hindu umumnya yang memiliki candi atau kuil sebagai tempat peribadatan. Hingga kini mereka meyakini sebagai keturunan langsung dari pengikut Kerajaan Majapahit.

Suku Tengger di Bormo dikenal sangat berpegang teguh pada adat dan istiadat Hindu lama yang menjadi pedoman hidup mereka. Keberadaan suku ini juga sangat dihormati oleh penduduk sekitar karena menerapkan hidup sederhana dan jujur. Mata pencaharian mereka sebagian besar adalah petani dan bahasa yang mereka gunakan sehari-hari adalah bahasa Jawa Kuno. Mereka tidak memiliki kasta bahasa, sangat berbeda dengan bahasa Jawa yang dipakai umumnya memiliki tingkatan bahasa. Dari namanya asal-usul kata tengger berasal gabungan dua kata, yaitu teng dan ger. Keduanya merupakan akhiran kata dari dua nama, yaitu Roro An-teng dan Joko Se-ger. Hal itu terkait Legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Menurut penuturan masyarakat setempat, diyakini bahwa mereka adalah keturunan Roro Anteng, yaitu seorang putri dari raja Majapahit dan Joko Seger, yaitu putera seorang brahmana. Asal mula nama suku Tengger diambil dari nama belakang Rara Anteng dan Jaka Seger. Keduanya membangun pemukiman dan memerintah di kawasan Tengger ini kemudian menamakannya sebagai Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger atau artinya “Penguasa Tengger yang Budiman”.
Disebutkan bahwa Rara Anteng adalah wanita yang sangat cantik sehingga banyak pria berebut memperistrinya. Akan tetapi, Rara Anteng sendiri jatuh hati pada seorang putra brahma bernama Joko Seger. Hubungan mereka terhalang oleh seorang penjahat sakti bernama Kyai Bima dan ingin menjadikan Rara Anteng sebagai istri. Rara Anteng menolak pinangan Kyai Bima dengan isyarat mengharap dibuatkan lautan pasir di atas gunung dalam waktu satu malam. Tidak dikira ternyata Kyai Bima menyanggupinya kemudian berupaya membuat lautan pasir menggunakan tempurung (batok) dan untuk mengairi lautan pasir tersebut dibuatlah sumur raksasa. Melihat Kyai Bima hampir berhasil, Roro Anteng kemudian bergesgas menggagalkannya dengan cara menumbuk padi sekeras mungkin agar ayam berkokok dan burung berkicau sebagai pertanda pagi hari telah tiba. Hal itu ternyata membuat Kyai Bima terkecoh dan menyerah sehingga meninggalkan pekerjaannya. Sisa-sisa pekerjaan Kyai Bima terlantar di kawasan ini, yaitu: hamparan lautan pasir di bawah Gunung Bromo yang disebut Segara Wedhi, sebuah bukit berbentuk seperti tempurung di selatan Gunung Bromo yang disebut Gunung Batok, serta gundukan tanah yang tersebar di kawasan Tengger, meliputi: Gunung Pundak-Lembu, Gunung Ringgit, Gunung Lingga. Gunung Gendera, dan lainnya.
Suku Tengger di Gunung Bromo rutin mengadakan beberapa upacara adat dan yang terbesar adalah Hari Raya Yadnya Kasada atau Upacara Kasodo. Saat perayaan hari besar suku Tengger ini Gunung Bromo bukan hanya dikunjungi umat Hindu Tengger dari berbagai penjuru Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tetapi umat Hindu dari Bali yang merasa mereka adalah keturunan dari Kerajaan Majapahit. Tidak hanya itu, saat upacara ini berlangsung, Pura Luhur Poten Bromo yang berada di antara Gunung Batok dan Gunung Bromo akan dikunjungi oleh banyak wisatawan dari berbagai negara dan penjuru Tanah Air.
Selain upacara Yadnya Kasada, ada juga Hari Raya Karo dan Unan-Unan. Berhubungan dengan siklus kehidupan warga suku Tengger juga diadakan ritual adat yaitu: saat kelahiran (upacara sayut, cuplak puser, tugel kuncung), menikah (upacara walagara), kematian (entas-entas, dan lainnya), upacara adat berhubungan siklus pertanian, mendirikan rumah, dan juga terkait adanya gejala alam seperti leliwet dan barikan.
Untuk berinteraksi langsung dengan warga suku Tengger maka persebaran utama mereka ada di sekitar Gunung Bromo dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Untuk menuju lokasi ini maka Anda dapat melalui Kota Surabaya atau Kota Malang menggunakan mobil sewaan atau kendaraan umum. Anda dapat menginap di salah satu hotel di kawasan ini untuk memastikan melihat Matahari terbit yang menakjubkan di Bromo.

Akomodasi

Ada banyak guesthouse dan hotel sederhana di sekitar Gunung Bromo. Guesthouse Bromo terletak di Ngadisari berjarak 3 km dari lereng kawah atau Anda dapat memilih hotel lain di Cemorolawang yang terletak di lereng kawah.Anda juga dapat menginap di Tretes, Pasuruan, atau Malang. Inilah kota-kota terdekat ke Bromo dengan resor sejuk bernuansa pegunungan. Selain itu ada juga banyak hotel yang mewah.Ada banyak guesthouse dan hotel sederhana di sekitar Gunung Bromo. Guesthouse Bromo terletak di Ngadisari berjarak 3 km dari lereng kawah atau Anda dapat memilih hotel lain di Cemorolawang yang terletak di lereng kawah. Anda juga dapat menginap di Tretes, Pasuruan, atau Malang. Inilah kota-kota terdekat ke Bromo dengan resor sejuk bernuansa pegunungan. Selain itu ada juga banyak hotel bagus yang menawarkan pemandangan spektakuler Gunung Semeru dan Gunung Arjuna.

Reference :

http://www.gunungbromo.com

Pariwisata Populer

Menakjubkan “GUNUNG KELIMUTU FLORES” Memiliki Danau Tiga Warna Salah Satu Taman Nasional Yang Terkenal di Dunia.

kalimutu 09

Taman Nasional Kelimutu terletak di Pulau Flores, Indonesia. Ini terdiri dari wilayah  bukit-bukit dan gunung-gunung, Puncak Gunung yaitu Kelibara dengan tinggi  (1.731 m) dari permukaan laut  sebagai puncak tertinggi. Gunung Kelimutu, yang memiliki tiga danau berwarna, juga terletak di taman nasional ini. Wisata alam ini adalah tujuan bagi wisatawan domestik dan macanegara.Beberapa jenis tumbuhan Endagered dilindungi di taman nasional ini, seperti:. Toona, Anthocephalus cadamba, Canarium, Diospyros ferra, Alstonis scholaris, Schleichera oleosa, Casuarina equisetifolia dan Anaphalis javanica.. Beberapa hewan langka juga dapat ditemukan di sini, seperti: Rusa, babi,  ayam hutan, Elanus  dan Drongo (Dicrurus sulphurea). Keempat mamalia endemik di taman termasuk dua tikus pegunungan. Bunomys naso dan Hainald ini Tikus (Rattus hainaldi)

Di daerah ini, ada juga arboretum, hutan Mini (4,5 ha) merupakan tumbuhan keanekaragaman hayati Taman Nasional Kelimutu. Arboterum terdiri dari 78 jenis tanaman pohon yang dikelompokkan ke dalam 36 keluarga. Beberapa koleksi flora yang endemik Kelimutu adalah uta Onga (Begonia kelimutuensis), turuwara (Rhododendron renschianum), dan arngoni (Vaccinium varingiaefolium).

Taman Nasional Kelimutu adalah satu dari banyak objek menarik dikunjungi di Taman Nasional Kelimutu adalah Three Lakes Color. Danau ini sebenarnya merupakan kawah Kelimutu terletak di Flores, Nusa Tenggara Timur. Lake Of Tiga Warna menunjukkan fenomena alam yang unik. Lake of Three Warna atau juga dikenal sebagai Danau Kelimutu terdiri dari 3 terpisah danau kawah berbentuk terletak di sisi kanan dan kiri. Danau di sebelah kiri umumnya dikenal sebagai Ata Mbupu Tiwu.

Kepercayaan  masyarakat setempat sebagai roh persinggahan orang tua. Di sebelah kanan, ada dua danau dipisahkan tebing tipis, yang biasa disebut Nuwa Muri Tiwu ko’o Fai dan Tiwu Ata Polo. Tiwu Nuwa Muri ko’o Fai roh diyakini sebagai tempat tinggal orang-orang muda, sedangkan Tiwu Ata Polo diyakini sebagai tempat tinggal roh-roh orang jahat. Danau ketiga warna dapat bervariasi sesuai dengan cuaca, kandungan mineral, serta pengaruh lumut dan batu di kawah. Warna bisa menjadi hijau, hijau lumut, biru, coklat, hitam, putih dan merah. Bagi penduduk setempat, perubahan warna memiliki makna.

Gunung Kelimutu, dengan danau kawah tri-berwarna nya, mungkin adalah fenomena alam yang paling menakjubkan di Flores. Selain itu, ‘gunung mengepul’ juga Angker TEMPAT paling terkenal di pulau itu, atau mistik, tempat berhantu.

Ada banyak mitos tentang asal-usul Kelimutu. Ini adalah salah satu alasan mengapa Gunung Kelimutu, dan masih merupakan tempat suci bagi orang-orang lokal. Selama bertahun-tahun, tiga danau kawah sering berubah warna. Saat ini, salah satu danau hitam-coklat, satu hijau, dan satu saat ini berubah dari hijau ke warna kemerahan. Sebuah alasan mungkin isi mineral bervariasi dari air. Penjelasan lain menunjukkan bahwa perubahan warna yang disebabkan oleh jiwa leluhur yang diabaikan.

Danau pertama bernama Tiwu Ata Mbupu (danau jiwa nenek moyang ; kedua bernama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (danau jiwa kaum muda); dan yang ketiga disebut Tiwu Ata Polo (danau roh-roh jahat). Yang pertama dan kedua danau yang terletak berdekatan; sedangkan danau ketiga adalah sekitar 1,5 km ke arah barat. Kelimutu adalah tempat yang indah setiap saat sepanjang hari. Namun, waktu terbaik untuk menikmati tempat ajaib ini adalah di pagi hari ketika awan belum menutup pandangan. Banyak pengunjung memilih untuk melihat matahari terbit disini.

Titik awal yang paling populer dan nyaman untuk mengunjungi Kelimutu adalah Moni, dekat desa dengan Transflores ‘jalan raya’. Bahwa sampai tidak terlalu lama pengunjung harus mendaki semua jalan sampai ke Kelimutu, sekarang ada jalan beraspal ke tempat parkir di mana Anda dapat menikmati 30 menit berjalan kaki melalui hutan lebat yang penuh kicau burung, sebelum memasuki area danau.

Moni, juga, adalah layak tinggal. Anda dapat melakukan banyak treks yang bagus di lingkungan yang subur sawah, hutan, dan bukit-bukit. Bersantai di mata air panas di dekatnya, melihat beberapa Lio ikat baik di pasar, atau menikmati pertunjukan tari lokal dan musik. Titik awal lain untuk Kelimutu, dan alternatif yang baik untuk Moni, adalah desa Detusoko, yaitu sekitar 33km dari Kelimutu.

Taman Nasional Kelimutu

Kelimutu kawah danau adalah hanya sebagian kecil dari Taman Nasional Kelimutu. Wilayah menarik ini milik daerah di seluruh dunia dilindungi dan diakui secara internasional oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Karena fitur-fiturnya yang unik alami, keanekaragaman hayati yang tinggi, dan warisan budaya, Taman Nasional Kelimutu menarik ribuan wisatawan setiap tahun. Banyak bukit-bukit dan pegunungan  di wilayah ini yang di huni  setidaknya 19 langka, spesies burung endemik.Begitu banyak tempat di Flores, yang memiliki tempat yang unik  rumah  tradisional, tarian, dan tenun ikat masih berakar di kalangan masyarakat setempat.

Menuju Ke Lokasi

Jika  memilih untuk memulai dari Moni, Anda dapat memilih salah satu dari banyak dasar untuk mid-range Cottage atau hotel. Bersiap-siap untuk tur hiking Anda dengan makanan yang energik dari restoran lokal atau warung. Di Moni Anda dapat menemukan beberapa toko-toko kecil dengan berbagai dasar produk, dan pasar di mana Anda dapat membeli produk pertanian, makanan, pakaian, dan masih banyak lagi untuk kehidupan sehari-hari. Pasar dibuka setiap hari Senin, Selasa dan Minggu, sedangkan Senin adalah hari libur.

Dari Maumere ke Moni jaraknya 62 km, dari Ende ke Moni 51km (1 jam). Transportasi umum mikrolet yang  menghubungkan Bajawa dan Ende dengan Moni. Dari Bajawa ke Moni, dibutuhkan sekitar 4 jam. Detusoko, titik awal alternatif, terletak antara Moni dan Ende.Beberapa jenis tumbuhan Endagered dilindungi di taman nasional ini, seperti:. Toona  Anthocephalus cadamba, Canarium spp, Diospyros ferra, Alstonis scholaris, Schleichera oleosa, Casuarina equisetifolia dan Anaphalis javanica.. Beberapa hewan langka juga dapat ditemukan di sini, seperti: Javan Rusa, Liar babi,  ayam hutan, Elanus  dan Drongo  (Dicrurus sulphurea). Keempat mamalia endemik di taman termasuk dua tikus pegunungan. Bunomys naso dan Hainald ini Tikus (Rattus hainaldi)

Di daerah ini, ada juga arboretum, hutan Mini (4,5 ha) merupakan tumbuhan keanekaragaman hayati Taman Nasional Kelimutu. Arboterum terdiri dari 78 jenis tanaman pohon yang dikelompokkan ke dalam 36 keluarga. Beberapa flora endemik koleksi Kelimutu adalah Onga uta (Begonia kelimutuensis), turuwara (Rhododendron renschianum), dan arngoni (Vaccinium varingiaefolium).

source : Http://kelimututravel.com