Pengantar Analisis Teknologi Access Fiber Optic untuk media Telekomunikasi

Tuntutan kebutuhan pelanggan terhadap kualitas dan jenis layanan telekomunikasi yang semakin meningkat serta perkembangan teknologi yang pesat, menimbulkan kebutuhan untuk menyediakan sarana komunikasi berbasis fiber optik sampai ke lokasi pelanggan. Penggunaan fiber optik di jaringan lokal (OAN) menyediakan kapasitas, jenis jasa, dan fleksibilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan jaringan kabel tembaga konvensional. Disamping fleksibilitas terhadap tuntutan kebutuhan layanan, OAN juga diharapkan dapat menyederhanakan jaringan lokal, mengatasi keterbatasan fasilitas infrastruktur dan memperluas daerah jangkauan Dalam Whitepaper ini  akan dijelaskan tentang berbagai macam teknologi OAN yang dapat digunakan untuk memberikan berbagai macam jenis layanan baik yang berbasis pita sempit (narrowband) maupun pita lebar (broadband).

  • Jenis-Jenis Layanan
    Perkembangan teknologi baru mendorong tumbuhnya permintaan pasar akan jenis jasa/aplikasi baru disamping kebutuhan akan layanan telekomunikasi dasar (POTS). Ditinjau dari segi jumlah bandwidth yang dibutuhkan, jenis-jenis layanan dapat dibedakan menjadi 2 kelompok besar: Layanan Pita Sempit (Narrowband) yaitu jenis-jenis layanan yang membutuhkan lebar pita hingga 2 Mbit/s, dan Layanan Pita Lebar (Broadband) yaitu jenis-jenis layanan yang membutuhkan lebar pita diatas 2 Mbit/s. Dilihat dari kategorinya, jenis-jenis layanan juga dapat dibedakan menjadi layanan telekomunikasi, informasi/transaksi, dan hiburan/entertainment.
    Sedangkan dilihat dari interaksi komunikasi yang terjadi, layanan dapat dibedakan menjadi layanan interaktif simetris (dua arah masing-masing dengan laju bit yang sama), layanan interaktif asimetris/retreaval (dua arah dengan laju bit yang tidak sama untuk arah upstream & downstream dimana umumnya downstream laju bitnya lebih besar), dan layanan distributif (hanya satu arah saja yaitu downstream). Gambar 1 memberikan contoh berbagai macam jenis layanan berdasarkan kategori dan atribut interaksi komunikasi yang terjadi untuk masing-masing jenis layanan.

image

Teknologi OAN yang ada saat ini dapat mengakomodasi berbagai macam jenis layanan tersebut diatas sesuai dengan aplikasinya. Bahkan salah satu teknologi OAN broadband yaitu ATM PON dengan modus aplikasi Fiber To The Home (FTTH) telah dipercaya sebagai suatu solusi bagi “Full Service Access Network” yang paling cost effective di masa depan.

Konfigurasi Optical Access Network (OAN)

Teknologi OAN yang ada dapat diimplementasikan dalam berbagai macam konfigurasi. Beberapa alternatif konfigurasi yang umumnya dipakai pada segmen optiknya adalah sebagai berikut:
Single Star (SS) atau point to point adalah konfigurasi jaringan yang menghubungkan sentral ke pelanggan secara langsung tanpa melewati pencabangan. Jaringan ini sangat sederhana dan hanya menggunakan komponen sambungan (splice) serta konektor pada kabel optik dalam jaringan.
Passive Double Star (PDS), Passive Triple Star (PTS) atau secara umum disebut Passive Multiple Star atau point to multipoint merupakan konfigurasi yang biasa digunakan dalam sistem berbasis Passive Optical Network (PON) dimana multiplexing atau pencabangan pada jaringan yang menghubungkan sentral ke pelanggan dilakukan dengan menggunakan komponen pasif (passive splitter).

Active Double Star (ADS) adalah konfigurasi yang menggunakan komponen
aktif pada jaringan untuk melakukan multiplexing dan pencabangan. Yang dimaksud dengan komponen aktif adalah komponen yang menggunakan daya
listrik. Ring adalah konfigurasi yang digunakan untuk meningkatkan kehandalan jaringan. Konfigurasi ring memungkinkan proteksi jaringan fiber optik sehingga bila terjadi gangguan pada salah satu jalur, maka trafic dapat dialihkan melalui jalur yang lain.
Pada segmen kabel tembaga setelah remote terminal atau optical network unit, umumnya digunakan konfigurasi star dengan memakai kabel penanggal atau twisted pair ke terminal pelanggan. Khusus untuk salah satu alternatif teknologi OAN Broadband yaitu hybrid fiber coax (HFC) segmen kabel tembaganya memakai kabel koaksial dan menggunakan konfigurasi Bus.

Modus Aplikasi OAN
Sistem OAN secara umum terdiri dari dua jenis perangkat, yaitu perangkat opto elektronik yang ditempatkan di sisi sentral (dapat berupa Central Terminal/CT atau Optical Line Termination/OLT) serta perangkat opto elektronik yang ditempatkan di sisi pelanggan (dapat berupa Remote Terminal/RT atau Optical Network Unit/ONU). Perbedaan lokasi peletakan perangkat opto elektronik di sisi pelanggan memunculkan berbagai macam istilah modus aplikasi OAN. Beberapa istilah umum yang paling banyak dipakai untuk menjelaskan modus aplikasi OAN diantaranya adalah sebagai berikut.

image

Fiber To The Building (FTTB)

Istilah FTTB dipakai bila perangkat opto elektronik di sisi pelanggan berada di dalam suatu gedung (umumnya di basement atau ruangan perangkat telekomunikasi). Jadi fiber optik digelar mulai dari sentral dan berakhir di suatu
gedung (umumnya berupa gedung-gedung bertingkat/perkantoran). Terminal pelanggan yang ada di dalam gedung tersebut akan dihubungkan ke perangkat RT atau ONU dengan menggunakan kabel tembaga sesuai dengan jenis layanannya.

Fiber To The Zone (FTTZ)

Istilah FTTZ digunakan bila perangkat opto elektronik di sisi pelanggan diletakkan di suatu tempat (umumnya di dalam kabinet) di luar gedung/bangunan. Jadi fiber optik digelar mulai dari sentral dan berakhir di kabinet RT atau ONU yang memiliki daerah cakupan layanan tertentu (zone). Terminal pelanggan dihubungkan ke perangkat RT atau ONU dengan menggunakan kabel tembaga hingga jarak beberapa kilometer (maksimum 3 kilometer). Bila dianalogikan dengan jaringan kabel tembaga, maka letak kabinet pada modus aplikasi FTTZ adalah kira-kira sama dengan lokasi rumah kabel (RK).

Fiber To The Curb (FTTC)

Istilah FTTC digunakan bila perangkat opto elektronik di sisi pelanggan diletakkan di suatu tempat di luar gedung/bangunan (umumnya di dalam kabinet di atas tanah maupun di tiang). Jadi fiber optik digelar mulai dari sentral dan berakhir di kabinet RT atau ONU yang memiliki daerah cakupan layanan tertentu yang lebih kecil dari FTTZ. Terminal pelanggan dihubungkan ke perangkat RT atau ONU dengan menggunakan kabel tembaga hingga jarak beberapa ratus meter (maksimum 500 meter). Bila dianalogikan dengan jaringan kabel tembaga, maka letak kabinet pada modus aplikasi FTTC adalah kira-kira sama dengan lokasi distribution point (DP).

Fiber To The Home (FTTH)

Istilah FTTH dipakai bila perangkat opto elektronik (umumnya berupa ONU) diletakkan di dalam rumah pelanggan (residensial). Terminal pelanggan dihubungkan ke ONU dengan menggunakan kabel tembaga indoor atau IKR dengan jarak yang cukup pendek (belasan atau puluhan meter saja). Letak perangkat ONU pada FTTH dapat dianalogikan dengan terminal batas atau bahkan roset pada jaringan kabel tembaga.
Beberapa istilah lain mungkin dipakai seperti misalnya Fiber To The Office (FTTO),
Fiber To The Apartment (FTTA), Fiber To The Desk (FTTD), dan lain-lain, namun pada prinsipnya dapat dimasukkan dalam kategori salah satu dari modus aplikasi di atas.

image

Sistem Transmisi Pada OAN

  • Metoda Multiplexing Untuk Transmisi Bidirectional
    Secara umum, sistem transmisi dua arah (bidirectional) terbagi menjadi dua kategori; yaitu sistem transmisi yang menggunakan satu fiber atau dua fiber.
    Metoda multiplexing yang dapat digunakan untuk mewujudkan transmisi bidirectional tersebut meliputi Space-Division Multiplexing (SDM), Wavelength- Division Multiplexing (WDM), Directional-Division Multiplexing (DDM), Time- Compression Multiplexing (TCM), Code-Division Multiplexing (CDM), dan Subcarrier Multiplexing (SCM). Klasifikasi sistem transmisi bidirectional tersebut dijelaskan pada Gambar 4.

image

Sistem transmisi dengan menggunakan satu fiber oleh beberapa pihak dinilai sebagai salah satu solusi yang lebih memenuhi persyaratan ekonomi (cost effective), karena dengan sistem ini jumlah fiber, splice, splitter, konektor yang
diperlukan hanya separuh dari sistem yang menggunakan dua fiber. Namun perlu diperhatikan bahwa sistem ini umumnya lebih kompleks dan khusus untuk beberapa metoda multiplexing sistem dengan satu fiber memerlukan beberapa persyaratan khusus pada komponen jaringan optiknya. Sistem transmisi menggunakan dua fiber tidak memerlukan persyaratan khusus bagi komponen jaringan optiknya. Hal ini karena kebanyakan komponen jaringan optik yang ada saat ini memang dipersiapkan bagi sistem ini.
Space Division Multiplexing Sistem transmisi dengan menggunakan dua fiber merupakan sistem yang paling sederhana dan selama ini sudah dan paling banyak dipakai. Sistem transmisi ini dikenal dengan istilah Space Division Multiplexing (SDM). Sistem ini mempergunakan sepasang (dua) serat optik, satu untuk keperluan transmisi upstream dan satu untuk keperluan transmisi downstream. Sistem transmisi ini juga dikenal sebagai sistem transmisi simplex.

image

Direction Division Multiplexing (DDM)

Sistem ini mempergunakan hanya sebuah serat optik untuk keperluan transmisi dua arah baik upstream maupun downstream dengan menggunakan bantuan “optical directional coupler”. Namun karena dalam sistem ini digunakan panjang gelombang yang sama untuk sinyal upstream dan downstream, maka diperlukan konektor dan coupler yang khusus untuk mengatasi back reflection yang dapat menimbulkan crosstalk. Dalam hal ini dibutuhkan konektor dengan return loss ≥ 50 dB serta coupler dengan directivity yang sangat baik (> 60 dB).
Sistem transmisi bidirectional dengan panjang gelombang yang sama ini dikenal sebagai sistem Full Duplex.

image

Wavelength Division Multiplexing (WDM)

Sistem ini mempergunakan dua panjang gelombang yang berbeda pada sebuah serat optik untuk setiap arah transmisi, sinyal-sinyal dengan panjang gelombang yang berbeda tersebut digabung dalam satu fiber dengan menggunakan WDM coupler. Panjang gelombang yang umumnya digunakan dalam sistem WDM adalah 1310 dan 1550 nm. Penggunaan WDM dalam transmisi bidirectional dengan satu fiber ini dikenal sebagai sistem Diplex.

image

Time Compression Multiplexing (TCM)

Sistem ini disebut juga “optical ping-pong transmission” yaitu pengiriman sinyal optik secara bergantian. Pertama-tama informasi dikompres pada sebuah memori buffer transmitter, selanjutnya informasi tersebut ditransmisikan melalui sebuah media serat optik pada waktu yang berturut-turut. Pada sisi penerima informasi yang dikompres tersebut dikembalikan ke asalnya pada memori buffer receiver. Panjang gelombang yang dipergunakan pada setiap arah transmisi adalah sama dan hal ini diperkenankan sehubungan hanya ada satu arah sinyal.

pada selang waktu tertentu. Oleh sebab itu sistem TCM ini tidak memerlukan persyaratan khusus bagi komponen di jaringan optiknya. Namun dengan membagi frame dalam section upstream dan downstream secara bergantian akan berakibat pada keterbatasan efisiensi frame sebesar 50 %.

image

Code Division Multiplexing (CDM)

Dalam sistem CDM, sinyal dengan arah upstream dan downstream dimodulasi dengan kode yang berbeda. Sinyal input elektrik dimultiplikasi dengan kode yang unik untuk masing masing arah dan kemudian diubah menjadi sinyal optik. Di sisi penerima, sinyal informasi dapat diperoleh kembali dengan cara korelasi. Akibat proses modulasi CDM ini akan dihasilkan sinyal transmisi dengan bit rate yang lebih tinggi dari sinyal inputnya.
Subcarrier Multiplexing (SCM)
Dalam sistem SCM, sinyal upstream dan downstream dimodulasikan dengan frekuensi subcarrier yang berbeda dan dilewatkan suatu band-pass filter (BPF). Sinyal upstream dan downstream diletakkan pada domain frekuensi subcarrier yang ditentukan supaya tidak terjadi overlap. Efek refleksi yang timbul dapat diatasi dengan menggunakan filter elektrik. Karena sistem ini merupakan transmisi analog, maka untuk beberapa aplikasi linearitas dari sinyal sangat diperlukan.

image

Perbandingan teknis antara SDM, DDM, WDM, TCM, CDM, dan SCM diperlihatkan pada Tabel V. Pada sistem DDM, perangkat optik untuk menanggulangi efek refleksi akan menjadi sangat kompleks. Pada sistem TCM
diperlukan perangkat elektronik yang kompleks juga untuk menangani sinkronisasi sinyal yang bersifat burst. Pada sistem CDM dan SCM, perangkat elektronik yang kompleks juga diperlukan untuk me-modulasi/demodulasi kode
maupun subcarrier. Salah satu kesulitan dari sistem transmisi full duplex dengan menggunakan 1 fiber adalah refleksi pada konektor pertama (setelah titik TX dan RX dari jaringan) akan menimbulkan crosstalk antara transmitter pada sisi yang satu dengan receiver pada sisi yang sama pada jaringan. Untuk mengatasi hal itu diperlukan komponen-komponen yang khusus untuk mengurangi efek yang timbul baik akibat refleksi maupun crosstalk.

image

image

Transfer Mode pada Transmisi Sinyal Digital

Terdapat beberapa jenis transfer mode untuk mengirimkan sinyal digital yaitu synchronous transfer mode (STM), packet mode, dan asynchronous transfer mode (ATM). STM umumnya dipakai dalam aplikasi circuit-mode switching dan time division multiplexing. Unit fundamental pada switching berbasis STM adalah time slot. Informasi untuk suatu kanal tertentu di dekomposisi menjadi time slot-time slot yang diletakkan dalam suatu posisi tertentu dalam suatu frame. Laju bit rate untuk suatu layanan berbasis STM umumnya merupakan multiplikasi dari 64 kbit/s. Suatu kanal dalam STM diidentifikasi berdasarkan posisi time slotnya.
Dalam hal ini pada saat tidak ada informasi yang dikirimkan dalam suatu kanal, maka time slot yang dialokasikan untuk kanal tersebut tidak dapat digunakan untuk kanal yang lain dengan demikian sistem berbasis STM umumnya dinilai kurang efisien.
Packet mode umumnya dipakai dalam aplikasi packet-mode swithcing. Informasi didekomposisi menjadi packet yang terdiri atas sebuah header dan sebuah information field. Suatu kanal dalam packet mode diidentifikasi dengan
label yang tertulis pada header. Panjang dari suatu packet adalah variabel dan suatu packet di-generate secara asinkron pada saat informasi dikirimkan. Hal ini memungkinkan packet mode untuk digunakan pada layanan dengan bit rate berapapun dan cukup efisien. Hanya saja dalam sistem berbasis packet mode protokolnya cukup kompleks dan diproses dengan menggunakan software.
Akibatnya packet mode cukup sulit untuk diterapkan pada penggunaan bit rate yang tinggi.
Diantara kedua jenis transfer mode diatas, STM adalah merupakan solusi yang
terbaik untuk layanan-layanan dengan fixed-rate. Pada layanan telekomunikasi masa depan yang berbasis pita lebar, berbagai macam jenis layanan dengan rentang bit rate yang rendah dan tinggi harus ditransmisikan secara efisien.
Sistem berbasis STM tidak cukup efisien untuk menanganinya, sedangkan sistem berbasis packet mode kurang cocok untuk menangani service dengan bit rate yang tinggi. Maka dikembangkanlah sistem berbasis asynchronous transfer mode (ATM) untuk sistem transmisi dengan kecepatan tinggi yang efisien. Informasi dalam sistem ATM didekomposisi menjadi ATM cell yang terdiri dari sebuah header dan sebuah information field. Panjang dari suatu ATM cell adalah tetap sedangkan jumlah cell adalah variabel sehingga transmisi untuk layanan dengan berbagai macam bit rate dapat dilakukan secara efisien. Panjang satu ATM cell ditetapkan oleh ITU-T sebesar 53 byte (8
bit per byte) yang terdiri dari 48 byte payload dan 5 byte header. Suatu kanal dalam ATM diidentifikasikan dengan label yang tertulis di header. Dalam sistem
ATM protokolnya cukup sederhana sehingga dapat diproses dengan hardware
berkecepatan tinggi.

image

Teknologi OAN Pita Sempit

Ruang lingkup teknologi OAN pita sempit (narrowband) adalah mencakup teknologi-teknologi OAN dengan kemampuan untuk menyediakan jenis-jenis layanan telekomunikasi dengan bit rate hingga 2 Mbit/s. Beberapa teknologi OAN pita sempit yang dikenal saat ini meliputi Digital Loop Carrier (DLC),
Passive Optical Network (PON) dan Active Optical Network (AON). Dalam aplikasinya teknologi-teknologi tersebut dapat dikombinasikan dengan sistem transmisi baik Plesiochronous Digital Hierarchy (PDH) maupun Synchronous Digital Hierarchy (SDH).

Teknologi Digital Loop Carrier (DLC)

Pada tahun 1985, teknologi DLC yang mula-mula masih menggunakan kabel tembaga mulai beranjak pada alternatif penggunaan kabel serat optik sebagai
media trasmisinya. Dimulailah era penggunaan fiber optik di jaringan lokal (Fibre-In-The Loop / FITL). Berbagai perangkat elektronik dan optik dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Media fiber optik digunakan untuk menghubungkan Central Office Terminal (CT) yang ada di lokasi sentral dengan Remote Terminal (RT) yang terletak di sisi pelanggan.
Remote terminal tersebut melayani sekelompok pelanggan dalam suatu lokasi atau area tertentu yng disebut dengan Carrier Serving Area (CSA). Berawal dari konsep CSA inilah muncul berbagai istilah untuk menggambarkan konfigurasi peletakan Remote Terminal di sisi pelanggan, yaitu Fibre-To-The Building (FTTB), Fibre-To-The Apartment (FTTA), Fibre-To-The Business, Fibre-To-The Curb (FTTC), dll.

Pulse Code Modulation (PCM)

Teknologi DLC yang berkembang saat ini merupakan pengembangan dari teknologi PCM-30 yang selama ini telah mapan digunakan di tingkat jaringan penghubung sentral (junction maupun trunk). Perangkat dasar yang digunakan adalah multiplexer 30 kanal 64 kbit/s (2 Mbps). Pada awalnya teknologi PCM ini dipakai dengan menggunakan kabel tembaga (kabel PCM) yang seringkali membutuhkan regenerator di tengah-tengahnya untuk menjangkau jarak yang lebih jauh. Kebutuhan akan kapasitas yang lebih besar serta jangkauan yang lebih luas mengakibatkan peralihan ke sistem transmisi dengan menggunakan media fiber optik.
Hubungan kabel fiber optik dari sisi sentral ke sisi pelanggan adalah titik ke titik (point to point) sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 11. Hal ini berarti
minimal diperlukan 1 (satu) perangkat PCM disisi pelanggan dan 1 (satu)
perangkat PCM pasangannya disisi sentral. Perangkat PCM ini menggunakan kanal frekuensi suara (VF) sebagai antarmuka saluran penghubung ke sentral. Komponen perangkat berbasis teknologi PCM-30 meliputi analog to digital converter (A/D converter) dan primary multiplexer 2 Mbit/s yang biasa disebut Channel Bank (CB), high order multiplexer (HOM), dan optical line termination equipment (OLTE).

Layanan yang dapat ditangani dengan teknologi PCM-30 pada umumnya terbatas pada POTS (Plain Old Telephony Service) dan data kecepatan rendah.OM merupakan multiplexer yang melakukan proses multiplexing secara bertingkat (step by step), tingkat pertama melakukan multiplexing 4 input 2 Mbit/s menjadi 8 Mbit/s, tingkat kedua melakukan multiplexing 4 input 8 Mbit/s menjadi 34 Mbit/s, dan tingkat ketiga melakukan multiplexing 4 input 34 Mbit/s menjadi 140 Mbit/s. HOM dengan orde tertinggi memultiplex 4 input 140 Mbit/s menjadi 565 Mbit/s. Untuk mendapatkan kembali sinyal informasi, di sisi penerima harus dipasang perangkat demultiplexer yang juga akan melakukan proses demultiplexing secara bertingkat mulai dari orde yang tertinggi hingga orde yang terendah. Hirarki yang digunakan dalam proses multiplexing ini dikenal dengan istilah Plesiochronous Digital Hierarchy (PDH). Perangkat OLTE umumnya tersedia dalam beberapa jenis kapasitas sesuai dengan orde HOM yg dipakai yaitu 8, 34, 140 dan 565 Mbit/s. Perangkat PCM-30 yang ada umumnya memiliki keterbatasan dalam hal fasilitas untuk sistem manajemen jaringan, disamping
itu dimensi perangkat memerlukan space yang relatif lebih besar. Contoh perhitungan kebutuhan perangkat PCM untuk menangani jumlah kanal telepon tertentu ditunjukkan pada Tabel berikut.

image

image

Digital Loop Carrier (DLC)

Teknologi ini merupakan hasil perbaikan sistem PCM-30. Keseluruhan fungsi perangkat ditunjang oleh 2 (dua) bagian saja yaitu :

  • Channel Bank (CB) yaitu hasil meringkas beberapa buah perangkat multiplexer 30 kanal.
  • HOM (High Orde Mux) yaitu hasil meringkas sebuah mux tingkat tinggi dengan sebuah OLTE yang bersesuaian.
    Walaupun prinsip kerja DLC secara mendasar sama dengan PCM, namun bila dibandingkan dengan sistem PCM, sistem DLC memiliki secara keseluruhan jumlah perangkat yang semakin sedikit serta ukurannya dan daya yang diperlukanpun menjadi lebih kecil. Seperti halnya PCM-30, DLC memiliki hubungan kabel serat optik dari sisi sentral ke sisi pelanggan sebagai hubungan titik ke titik (point to point) yang ditunjukkan pada Gambar 12. Hal ini berarti minimal diperlukan 1 (satu) perangkat DLC disisi pelanggan (Remote Terminal/RT) dan 1 (satu) perangkat DLC pasangannya disisi sentral (Central Terminal/CT). DLC juga dapat memiliki konfigurasi ring baik pada level PDH maupun SDH dengan jumlah perangkat DLC disisi sentral sama dengan jumlah perangkat DLC yang terhubung dengan ring tersebut. Kemungkinan konfigurasi ini digambarkan pada Gambar 13. Konfigurasi ring pada sistem DLC diperlukan untuk memberikan sistem proteksi yang memadai. Proteksi 1+1 pada sistem berbasis PDH dikenal dengan istilah Automatic Protection System (APS). Pada APS tiap link komunikasi optik mempergunakan 4 (empat) core serat optik. Dua core serat optik untuk pengiriman sinyal informasi (main) dan 2 core serat optikuntuk cadangan (standby). Untuk sistem berbasis SDH, proteksi 1+1 merupakan salah satu fasilitas dari ring yang dilengkapi dengan redundansi bandwidth dan atau perangkat jaringan sehingga layanan dapat secara otomatis dipulihkan pada saat terjadi gangguan atau degradasi pada salah satu rute dari ring. Fasilitas ini dikenal dengan istilah “self healing ring” yang dapat direalisasikan baik dengan menggunakan 2 atau 4 fiber optik. Perangkat DLC umumnya tersedia dengan kapasitas minimum 120 kanal dan kelipatannya. DLC-120 adalah multiplexer/channel bank 120 kanal (4 x 2 Mbps) yaitu hasil meringkas 4 (empat) Mux. 30 kanal dalam 1 (satu) perangkat. DLC- 240 adalah multiplexer/channel bank 240 kanal yang sebenarnya terdiri dari dua DLC-120 dalam satu perangkat. Generasi selanjutnya dari sistem DLC cenderung menyatukan DLC dengan teknologi transmisi SDH dan dengan
    kapasitas lebih dari 480 kanal. Perangkat DLC generasi terbaru memiliki kemampuan cross connect (CC) pada primary multiplexernya (PM) yang memungkinkan proses grooming sehingga lebih mudah dan fleksibel pada saat melakukan setting konfigurasi perangkat (seringkali disebut sebagai Flexibel Multiplexer/FLEXMUX). HOM memiliki laju bit input 2 Mbit/s elektrik sedangkan laju bit outputnya dapat 8 Mbit/s, 34 Mbit/s dan 140 Mbit/s optik atau 565 Mbit/s. Dalam beberapa kasus perangkat HOM dapat digantikan dengan sistem transmisi SDH dengan kapasitas STM-1 (155 Mbit/s yang setara dengan 1920 kanal 64Kbit/s) atau STM-4 (625 Mbit/s yang setara dengan 7696 kanal 64Kbit/s).

image

Layanan yang dapat ditangani dengan menggunakan teknologi DLC meliputi POTS, payphone, analog leased line, 64kbit/s digital leased line, nx64 kbit/s digital leased line, ISDN BRA, ISDN PRA, 2Mbit/s digital leased line. Contoh kebutuhan perangkat untuk menangani jumlah kanal telepon tertentu sebagai perbandingan dengan sistem berbasis PCM-30 ditunjukkan pada Tabel.

image

Antarmuka Pada Sistem DLC

Antarmuka pada sistem DLC terbagi menjadi dua jenis yaitu antarmuka eksternal dan antarmuka internal. Antarmuka eksternal meliputi antarmuka dari CB ke sentral dan dari CB ke pelanggan yang dikenal dengan sebutan Service Unit (SU), serta antarmuka dari HOM atau ADM ke sentral yang dikenal dengan sebutan Tributary Unit (TU). Antarmuka internal meliputi antarmuka dari CB ke HOM dan HOM ke OLTE, antarmuka dari CB ke ADM dan antarmuka menuju OAMT (Operation Administration and Maintenance Terminal) Perangkat DLC generasi baru juga dilengkapi dengan fasilitas antarmuka V5.x. Antar muka V5.x adalah antarmuka 2 Mbit/s dari sentral menuju ke jaringan akses (TU). Dengan adanya antarmuka V5.x maka tidak diperlukan lagi Channel Bank di sisi sentral. Dengan menggunakan antarmuka V5.x, maka sistem ini akan semakin efisien dan sederhana. Terdapat dua jenis antar muka V5.x yaitu V5.1
yang tidak memiliki kemampuan konsentrasi dan hanya dapat menangani ISDN
BRA dan V5.2 yang memiliki kemampuan konsentrasi (1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6) serta dapat menangani layanan hingga ISDN PRA.

image

Antarmuka dari perangkat DLC menuju sistem manajemen jaringan (OAMT) adalah menggunakan Q3 interface atau CORBA. Sistem manajemen jaringan sesuai dengan konsep yang dituangkan dalam rekomendasi ITU-T M3010 adalah mencakup fungsi-fungsi sebagai berikut:
– Performance management
– Fault Management
– Configuration and resource management
– Access and security management

image

Teknologi Passive Optical Network (PON)

Teknologi ini dikembangkan atas dasar penggunaan bersama satu perangkat opto-elektronik oleh beberapa pelanggan sehingga harganya dapat ditanggung bersama dan secara topologi menjadi lebih sederhana. Upaya pengefektifan jaringan ini dicapai dengan cara menggunakan teknik transmisi tertentu (salah satunya TDM/TDMA) dan memanfaatkan pembagi sinyal optik pasif (passive splitter/PS) untuk memperoleh jumlah pencabangan yang diinginkan.
Sistem PON terdiri dari perangkat Optical Line Termination (OLT) yang biasanya terletak disisi sentral dan beberapa perangkat Optical Network Unit (ONU) yang tersebar di dekat lokasi pelanggan. Hubungan kabel fiber optik pada PON adalah titik ke banyak titik (point to multipoint). Hal ini berarti satu perangkat OLT melayani beberapa pelanggan pada lokasi yang berbeda yang dihubungkan melalui beberapa perangkat ONU. Umumnya, PON tidak memiliki sistem proteksi namun bilamana dibutuhkan sistem proteksi 1+1 dapat diterapkan pada segmen OLT-PS dengan mempergunakan komponen passive splitter 2:n.

Pada kondisi tertentu sistem PON juga dapat dikombinasikan dengan sistem transmisi ring SDH untuk memperluas jangkauan serta meningkatkan kehandalan jaringan. Konfigurasi dasar PON ditunjukkan pada Gambar 15. Perangkat OLT berfungsi sebagai antarmuka ke sisi sentral, Optical Distribution Network (ODN) merupakan jaringan transmisi fiber optik yang menghubungkan OLT ke ONU dan sebaliknya, sedangkan ONU merupakan perangkat antarmuka ke sisi pelanggan. ODN dapat dikonfigurasikan menjadi beberapa macam topologi yaitu single star, double star, atau multiple star tergantung pada posisi peletakan komponen passive
splitter di jaringan optiknya.

image

Metoda Akses Pada Passive Optical Network

Sistem PON memiliki metoda transmisi yang khusus dikarenakan sharing jaringan fiber optik yang terjadi dengan digunakannya komponen passive splitter pada jaringan. Sistem transmisi yang umumnya paling banyak dipakai pada sistem berbasis PON adalah Time Division Multiplexing (TDM) untuk arah downstream dan Time Division Multiple Access (TDMA) untuk arah upstream (dengan menggunakan fiber yang berbeda untuk masing-masing arah). Ide yang digunakan adalah dengan membagi sinyal-sinyal informasi berdasarkan waktu (time slot), mengirimkan sebagian time slot dari sinyal pertama yang diikuti dengan time slot dari sinyal kedua, dan seterusnya secara berulang

hingga keseluruhan time slot selesai dikirimkan. Siklus tersebut terus menerus berulang dan berlaku baik untuk arah downstream maupun arah upstream. Perbedaan istilah TDM dan TDMA dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada arah downstream (TDM) hanya terdapat satu transmitter yang senantiasa aktif dan
mengirimkan sinyal-sinyal ke beberapa receiver, dimana masing-masing receiver akan mengambil informasi/time slot yang diperuntukkan baginya serta
mengabaikan informasi yang lainnya. Sebaliknya untuk arah upstream sinyalsinyal diterima dari beberapa transmitter individual, yang masing-masing hanya akan aktif pada saat yang bersangkutan mengirimkan informasi, kemudian non aktif untuk memberi kesempatan pada transmitter yang lainnya untuk mengirimkan informasi (TDMA).

image

Selain TDM/TDMA sistem transmisi lain yang dapat dipergunakan adalah TCM/TDMA dengan menggunakan hanya satu fiber untuk arah downstream maupun upstream. Sistem ini dikenal dengan istilah

ping-pong transmission, dimana pengiriman/penerimaan sinyal informasi dilakukan secara bergantian antara perangkat-perangkat yang ada disisi sentral dan di sisi pelanggan (masing-masing mengambil setengah dari satu siklus TCM) sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 19.

image

Antarmuka Pada Sistem Passive Optical Network

Antarmuka pada sistem PON terbagi menjadi dua jenis yaitu antarmuka eksternal dan antarmuka internal. Antarmuka eksternal meliputi antarmuka dari OLT ke sentral yang dikenal dengan sebutan Tributary Unit (TU), serta antarmuka dari ONU ke pelanggan yang dikenal dengan sebutan Service Unit
(SU). Perangkat OLT dirancang memiliki antarmuka 2Mbit/s (V5.x) ke arah sentral sebagai suatu antarmuka yang terbuka (open interface). Apabila sentral belum memilikinya, maka diperlukan tambahan perangkat Channel Bank untuk menghubungkan antara sisi sentral dengan tributary unit dari OLT. Antarmuka internal meliputi antarmuka dari OLT ke ODN, antarmuka dari ONU ke ODN, dan antarmuka menuju OAMT (Operation Administration and Maintenance Terminal). Antarmuka dari OLT & ONU ke ODN untuk berbagai macam jenis produk berbasis PON umumnya bersifat proprietary (tidak terstandardisasi). Jadi perangkat OLT hanya dapat dihubungkan dan berkomunikasi dengan perangkat ONU yang berasal dari pabrikan yang sama. Seperti halnya dengan sistem DLC, antarmuka dari perangkat OLT menuju sistem manajemen jaringan (OAMT) adalah menggunakan Q3 interface atau CORBA. Sistem manajemen jaringan sesuai dengan konsep yang dituangkan dalam rekomendasi ITU-T M3010 adalah mencakup fungsi-fungsi sebagai berikut:
– Performance management
– Fault Management
– Configuration and resource management
– Access and security management

Kapasitas Sistem Passive Optical Network

Sistem PON mengenal tiga batasan kapasitas yaitu kapasitas ONU, kapasitas ODN, dan kapasitas OLT. Kapasitas ONU dan OLT menunjukkan jumlah kanal yang dapat ditangani oleh perangkat yang bersangkutan. Sedangkan kapasitas Optical Distribution Network (ODN) menunjukkan jumlah kanal yang dapat disalurkan pada suatu cabang serat optik dengan sistem transmisi tertentu.
Kapasitas ONU yang umum adalah 4, 16, 30, 60, dan 120 kanal. Kapasitas ODN bervariasi disekitar 200 kanal. Sedangkan kapasitas OLT dipersyaratkan minimal 800 kanal dan dapat didistribusikan maksimum ke 4 ODN. Splitting ratio yang dapat dipakai pada sistem PON adalah hingga 1:16 untuk mencapai jarak jangkauan hingga 20 km, dan 1:32 untuk mencapai jarak jangkauan hingga 10 km. Layanan yang dapat ditangani dengan menggunakan teknologi PON meliputi POTS, payphone, analog leased line, 64kbit/s digital leased line,
ISDN BRA, ISDN PRA, 2Mbit/s digital leased line.

Teknologi Active Optical Network (AON)

Active Optical Network (AON) adalah salah satu teknologi OAN dengan konfigurasi point-to-multipoint yang menggunakan perangkat active splitter pada titik pencabangan dari jaringan. Penggunaan active splitter dalam sistem
AON memberikan kelebihan yaitu fleksibilitas dari penambahan kapasitas dan pencabangan serta dapat menjangkau daerah dengan cakupan yang lebih besar. Suatu sistem AON terdiri dari: sebuah Optical Line Termination (OLT), sejumlah ODN yang dibedakan menjadi primary ODN dan secondary ODN, satu atau lebih Active Spliting Equipment (ASE), dan sejumlah Optical Network Unit (ONU). Optical Line Termination (OLT) merupakan terminasi dari jaringan AON yang menyediakan antarmuka ke sisi sentral melalui tributary unit (TU) serta terhubung ke satu atau lebih primary ODN.

Optical Distribution Network (ODN) merupakan jaringan transmisi fiber optik antara OLT dan ASE (primary ODN) atau antara ASE dan ONU (secondary ODN). Active Splitting Equipment (ASE) merupakan terminasi antara (intermediate) dari sistem AON yang secara aktif mendistribusikan informasi dari OLT ke satu atau beberapa ONU. ASE terhubung ke primary ODN yang menuju ke arah OLT dan ke satu atau beberapa secondary ODN yang menuju
ke arah ONU. Beberapa produk menyediakan backup primary ODN untuk memberikan proteksi 1+1 pada jalur antara OLT dan ASE. Active Splitter Equipment mendistribusikan/mengumpulkan informasi dari/ke OLT ke/dari satu
atau lebih ONU dengan mempergunakan kapabilitasnya sebagai multiplexer/demultiplexer serta intermediate regenerator. Optical Network Unit (ONU) merupakan terminasi dari sistem AON yang terhubung ke secondary ODN dan menyediakan antarmuka dari sistem ke pelanggan. Pelanggan terhubung ke ONU dengan menggunakan kabel tembaga baik twisted pair maupun koaksial sesuai dengan kebutuhan. AON menggunakan sistem transmisi berbasis SDH untuk segmen antara OLT dan ASE, sedangkan untuk segmen antara ASE dan ONU dapat mempergunakan sistem transmisi SDH atau PDH. Konfigurasi umum sistem AON ditunjukkan pada Gambar 20.

Pada sistem AON, jaringan optik antara ASE dan ONU (secondary ODN) umumnya menggunakan topologi single star. Namun beberapa pabrikan menawarkan produk AON dengan secondary ODN yang bervariasi, misalnya dikombinasikan dengan sistem berbasis PON (passive double star), disusun secara cascade, atau bahkan dengan topologi ring sebagaimana diperlihatkan
pada Gambar 20.

image

Sumber : Knowledge TELKOM 2007

Teknologi Broadband Passive Optical Network Telecommunication

Dalam rangka mendukung kebutuhan layanan multimedia yang beragam, mencakup data dan citra, dan memiliki kecepatan serta kualitas yang bervariasi secara fleksibel dan efisien, maka introduksi teknologi ATM dalam sistem jaringan akses fiber merupakan pilihan yang efektif.
Perkembangan teknologi passive optical network berbasis ATM yang dikenal sebagai Asynchronous Transfer Mode Passive Optical Network (ATM PON) dipelopori oleh Full Service Access Network Initiative (FSAN). FSAN merupakan sebuah grup yang terdiri dari 20 perusahaan telekomunikasi yang bekerja secara kolaborasi dengan suplier/pabrikan perangkat untuk menyepakati suatu “common broadband access system” yang dapat menangani baik layanan narrowband maupun broadband.
Pekerjaan grup ini terbagi dalam dua fase. Fase pertama adalah mengidentifikasi kendala-kendala teknis dan ekonomis yang mungkin muncul
dalam introduksi jaringan akses pita lebar. Disepakati bahwa ATM PON merupakan teknologi yang paling menjanjikan yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan akan layanan pita lebar dalam skala besar. Konsorsium tersebut juga berkesimpulan bahwa ATM PON adalah yang terbaik dalam mendukung berbagai macam arsitektur jaringan seperti FTTH, FTTB, FTTC. Fase yang kedua dari pekerjaan FSAN adalah untuk menyusun “a common set of specification” untuk suatu jaringan akses full service. FSAN bukanlah suatu badan standar, namun mereka mengirimkan spesifikasi yang telah disusunnya
ke badan standar internasional ITU-T. Pada bulan Oktober 1998 ITU-T mengadopsi standar G.983.1 “broadband optical access system based on PON”.

  • Karakteristik dari “Full Service Network”
    Suatu jaringan layak disebut sebagai jaringan “Full Service” bila memenuhi beberapa karakteristik sebagai berikut:
    • Kompatibel terhadap semua jenis layanan baik yang eksisting maupun yang akan datang.
    • Bidirectional:
    – Kompatibel dengan circuit-switching atau packet switching
    – Memiliki kapabilitas multicast dan broadcast.
  • - Transparan terhadap karakteristik service
    – Kompatibel dengan MPEG packets dan TCP/IP
    • Bandwdth on demand (pada kenyataannya hingga 155 Mbit/s untuk tiap
    pelanggan)
    • User-selectable quality of service (QoS)
    • Kehandalan yang tinggi
    • Private & secure
    • Biaya inisial, on-going, dan upgrading yang masih dapat diterima

Arsitektur Sistem ATM PON

ATM PON dapat diimplementasikan dalam beberapa pilihan arsitektur yang meliputi Fiber To The Cabinet (FTTCab), Fiber To The Curb (FTTC) yang dikombinasikan dengan teknologi Very high speed Digital Subscriber Line (VDSL), Fiber To The Building (FTTB) serta Fiber To The Home (FTTH).
Arsitektur dari sistem berbasis ATM PON diperlihatkan pada Gambar 24. Komponen jaringan dari sistem ATM PON terdiri dari ATM OLT (Optical Line Termination), passive splitter, dan ONT (Optical Network Terminal). OLT menyediakan antarmuka berbasis ATM ke sisi sentral dan terhubung ke jaringan distribusi optik yang berakhir pada ONT. ONT akan melakukan filter terhadap cell-cell yang dikirimkan dari OLT serta melakukan recover terhadap sinyal-sinyal dengan alamat yang sesuai. Tiap ATM cell memiliki alamat terdiri dari 28 bit yang disebut sebagai virtual path identifier/virtual channel identifier
(VPI/VCI). Pertama-tama OLT akan mengirimkan pesan ke ONT dengan perintah untuk menerima cell-cell dengan nilai VPI/VCI tertentu. ATM cell yang telah di-recover oleh ONT kemudian akan dipakai untuk membentuk service interface yang dibutuhkan di sisi pelanggan. Karena ATM PON bersifat serviceindependent, maka segala macam jenis layanan baik yang ada sekarang maupun yang akan datang dapat ditransmisikan secara transparan. Komponen ONU (Optical Network Unit) dan NT (Network Termination) dipakai pada opsi arsitektur FTTCab/C, dimana terjadi sharing kapasitas dari sistem untuk beberapa pelanggan dengan lokasi yang terpisah-pisah. Dalam kondisi ini sistem ATM PON dikombinasikan dengan teknologi VDSL yang mampu membawa sinyal informasi dengan bit rate yang tinggi ke pelanggan dengan menggunakan kabel tembaga.
Dalam sistem berbasis ATM PON dikenal suatu antarmuka ke sisi sentral untuk
layanan pita lebar/broadband SNI yaitu VB5 interface (antarmuka V5 broadband). Sebagaimana halnya antarmuka V5.x untuk layanan pita sempit, maka VB5 juga terbagi menjadi dua jenis yaitu VB5.1 yang tidak memiliki konsentrasi dan VB5.2 yang memiliki konsentrasi.

image

Jenis-jenis antarmuka VB5 sesuai dengan jenis layanan yang disediakan
diantaranya adalah :
– IP Router (VB5.1)
– ATM VC Switch (VB5.1 & VB5.2)
– VOD (VB5.1 & VB5.2)
– Switched Digital Video Broadcast (VB5.1)
– Virtual Private Leased Line (VB5.1)
– ISDN (VB5.1 & VB5.2)

Sistem Transmisi pada ATM PON

Saat ini sistem berbasis teknologi ATM PON memiliki kecepatan sebesar 155 Mbit/s untuk sistem transmisi simetris dan 622 Mbit/s (downstream)/155 Mbit/s (upstream) untuk sistem transmisi asimetris. ATM PON menggunakan topologi passive double star dengan splitting ratio 1:16 atau 1:32 serta mempergunakan fiber optik jenis single mode (G.652). Splitting ratio tersebut diatas dikemudian hari diharapkan dapat ditingkatkan hingga 1:64. Jaringan ATM-PON dapat memiliki daerah jangkauan hingga 20 km.
Metode akses pada sistem transmisi ATM PON dapat mempergunakan beberapa cara seperti Time Division Multiple Access (TDMA), Wave Division Multiple Access (WDMA), Code Division Multiple Access (CDMA) dan Subcarrier Multiple Access (SCMA). Namun dengan pertimbangan kesederhanaan serta efektifitas biaya, metode Time Division Multiplexing (TDM) untuk arah downstream dan Time Division Multiple Access (TDMA) untuk arah upstream telah dipilih dan ditetapkan sebagai standar internasional. Sistem ini bahkan dibuat lebih efisien lagi dengan hanya menggunakan satu core fiber optik untuk mentransmisikan sinyal informasi optik yang berbeda panjang gelombang untuk arah upstream (1310nm) dan downstream (1550) dengan memanfaatkan teknik Wavelength Division Multiplexing (WDM). Gabungan teknik WDM dan metode TDM/TDMA ini paling efektif dan efisien terutama pada arsitektur jaringan FTTH sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 23.

image

Pemilihan Teknologi dan Konfigurasi OAN

Pertimbangan dalam Pemilihan Teknologi dan Konfigurasi OAN Keberadaan berbagai macam jenis teknologi OAN serta kemungkinan pilihan konfigurasinya yang beragam memerlukan perhatian yang khusus dalam menerapkannya di lapangan. Pemilihan teknologi dan konfigurasi merupakan isu strategis dalam pengembangan jaringan akses modern yang mempunyai kapabilitas untuk menyediakan layanan multimedia/broadband. Kapasitas demand, tipe layanan, fleksibilitas jaringan, serta biaya merupakan parameterparameter utama untuk melakukan evaluasi terhadap berbagai jenis arsitektur jaringan. Arsitektur jaringan yang dimaksud dalam hal ini mencakup kombinasi dari transmission medium, network topology, node configuration, dan system
technology. Beberapa faktor umum yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan teknologi dan konfigurasi OAN diantaranya adalah; jenis layanan yang dibutuhkan (narrowband/ broadband), densitas dari pelanggan, jarak transmisi dari sentral ke pelanggan, biaya yang dibutuhkan, serta kemudahan operasi dan pemeliharaan jaringan. Dalam menentukan solusi akhir teknologi dan konfigurasi OAN, faktor-faktor sebagai berikut akan memainkan peranan
penting yaitu:
a. Cost Effectiveness, baik biaya sarana penunjang, biaya sistem transmisi/perangkat maupun biaya operasi dan pemeliharaan. Sebaiknya biaya ini tidak hanya dihitung pada saat investasi awal melainkan dengan mempertimbangkan usia pakai perangkat/sistem (penerapan metode analisa tekno ekonomi).

Technical & Business Analysis-PL6 Optical Access Network

Future proof, yang diidentifikasi dengan fleksibilitas jaringan baik terhadap jenis layanan maupun kemudahan penambahan kapasitas di masa mendatang.
Karakteristik Layanan dan Arsitektur Jaringan
Pemilihan arsitektur jaringan sangat tergantung pada jenis service dan aplikasi yang akan disediakan melalui jaringan. Atribut dari service dan aplikasi akan sangat berpengaruh terhadap pemilihan arsitektur tersebut. Service merupakan produk yang dijual oleh pihak penyelenggara/service provider kepada pelanggan, sedangkan aplikasi merupakan penggunaan dari telecommunication service tersebut oleh pelanggan.
Jenis-jenis service yang dibutuhkan oleh pelanggan umumnya berbeda sesuai
dengan aktifitas dan lokasi keberadaan pelanggan. Kebutuhan pelanggan
bisnis berbeda dengan kebutuhan pelanggan perumahan/residensial, demikian juga halnya dengan pelanggan yang tinggal di gedung-gedung bertingkat memiliki karakteristik kebutuhan service dan jaringan yang berbeda dengan pelanggan yang tinggal di komplek perumahan/single house. Gambar 26 memberikan contoh karakteristik kebutuhan pelanggan akan berbagai jenis
layanan.

image

Efek dari pemilihan jenis layanan terhadap pilihan arsitektur jaringan akses yang ungkin dipakai ditentukan oleh nilai dari atribut-atribut diantaranya sebagai
berikut:
Bandwidth; kebutuhan bandwidth dan bit rate yang diperlukan untuk mendukung suatu jenis layanan merupakan atribut yang paling mendasar dalam pemilihan arsitektur jaringan. Hal ini karena beberapa jenis media fisik dan transport system kemungkinan tidak mampu menangani kapasitas yang dibutuhkan. Namun demikian bandwidth bukanlah suatu parameter yang bersifat independen karena juga ditentukan oleh tipe modulasi serta teknik coding yang dipakai dalam melakukan transfer informasi.
Symetry; simetrisitas dari jenis layanan yang diberikan kepada pelanggan akan membedakan jenis arsitektur jaringan antara sistem yang memang diperuntukkan untuk menangani layanan-layanan yang bersifat asimeteris (misalnya ADSL, VDSL, HFC) dengan sistem yang diperuntukkan untuk menangani layanan yang bersifat simetris (misal sistem fiber optik point-topoint). Communication Configuration; konfigurasi komunikasi untuk suatu jenis layanan dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam penentuan arsitektur jaringan. Misalnya layanan dengan komunikasi yang bersifat point-to-multipoint, atau multicast, atau broadcast paling cocok diimplementasikan dengan jaringan yang memiliki arsitektur berbasis shared medium seperti passive optical network, tree & branch coaxial (HFC).
Dalam pemilihan teknologi dan konfigurasi OAN, pemenuhan kebutuhan pelanggan baik kualitas, kuantitas, dan jenis service, perlu dilakukan secara sistematik. Dalam proses pemilihan tersebut, akurasi data kebutuhan pelanggan dan proyeksinya serta akurasi perencanaan jaringan menjadi kebutuhan yang penting mengingat mahalnya sistem ini serta adanya sejumlah konsekuensi logis yang terdapat dibalik keunggulan OAN ini.

Sumber : Knowledge TELKOM 2007

O-S-I Interface Internetworking

Agar komputer dapat berhubungan dengan komputer yang lain diperlukan suatu protokol yang sama. Protokol berfungsi mirip sebagai bahasa. Untuk mempermudah pengertian, penggunaan,desain dan adanya keseragaman diantara pembuat perangkat jaringan maka diperlukan suatu standar protokol
yang bisa mengakomodir kebutuhan tersebut. Oleh karena itu International Standard Organization (OSI) mengeluarkan suatu model lapisan jaringan yang disebut model Open System Interconnection (OSI).

Protocol

suatu aturan yang harus disepakati antara dua buah entitas, sehingga terbentuk suatu komunikasi yang menghasilkan pertukaran informasi yang baik.

image

 

Element Penting Protocol

  • Syntax : Format data, Coding, Level sinyal
  • Semantic : Kontrol Informasi,  Error handling
  • Timing : Kecepatan dan Urutan.

Karakteristik Protocol

  • Direct/Indirect
  • Monolithic/Structured
  • Symetric/Asymetric
  • Standard/Non Standard

Fungsi Protocol

  • Segmentation and Reassembly
  • Encapsulation
  • Connection Control
  • Ordered Delivery
  • Flow Control
  • Error Control
  • Synchronizes
  • Addressing
  • Multiplexing / Demultiplexing
  • Transmission Service

Ilustrasi Fungsi Protocol

image

Ilustrasi Fungsi Protocol

image

Model Referensi OSI

Konsep arsitektur interkoneksi OSI-RM (OSI Reference Model) ditawarkan oleh International Organization of Standardization (ISO) pada tahun 1978. Distandardkan pada tahun 1983. Rekomendasi ITU-T X.200 mendefinisikan model referensi dasar OSI.

Konsep OSI

  • Menggunakan teknik pelapisan (layering).
  • Tiap lapisan melakukan subset fungsi yang diperlukan untuk komunikasi.
  • Tiap lapisan memerlukan lapisan di bawahnya untuk melakukan fungsi yang lebih primitif dan menyembunyikan rincian dari fungsi tersebut.
  • Tiap lapisan menyediakan layanan (services) untuk lapisan diatasnya.
  • Idealnya, perubahan pada suatu lapisan tidak mengubah lapisan lainnya.
  • OSI harus mendefinisikan fungsi-fungsi dan layanan-layanan yang harus disediakan pada setiap lapisan.
  • Fungsi dan layanan setiap lapisan harus optimal sehingga dapat dikelola dengan baik; tidak terlalu banyak sehingga memerlukan banyak overhead.

Konsep Arsitektur berlapis

image

7 Layer OSI

  1. Physical Layer (Lapisan Fisik)
  2. Data Link Layer (Lapisan Tautan Data)
  3. Network Layer (Lapisan Jaringan)
  4. Transport Layer (Lapisan Transport)
  5. Session Layer (Lapisan Sesi)
  6. Presentation Layer (Lapisan Presentasi)
  7. Application Layer (Lapisan Aplikasi)

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Sumber : Knowledge TELKOM 2007

Dasar-Dasar dan Spesifikasi Fiber Optic, Jenis Kabel, Pewarnaan dan penggunaan

Kabel Serat Optic

Berbeda dengan kabel metalik, kabel serat optik ukurannya kecil, + 3 cm, dan lebih ringan sehingga instalasi kabel serat optik dapat dilakukan melalui beberapa span secara sekaligus. Panjang kabel serat optik dalam satu haspel
biasanya mencapai 2 s/d 4 km. Pada saat ini, untuk mengatasi keterbatasan kapasitas kabel tembaga, maka pembangunan junction menggunakan kabel serat optik jenis single mode. Ada dua jenis kabel Fiber Optic , yaitu :

PIPA LONGGAR (Loose Tube).
Serat optik ditempatkan di dalam pipa longgar (loose tube) yang terbuat dari bahan PBTP (Polybutylene Terepthalete) dan berisi jelly. Saat ini sebuah kabel optik maksimum mempunyai kapasitas 8 loose tube, di mana setiap loose tube berisi 12 serat optik.

ALUR (Slot)
Serat optik ditempatkan pada alur (slot) di dalam silinder yang terbuat dari bahan PE (Polyethyiene). Pada saat di Jepang telah dibuat kabel jenis slot dengan kapasitas 1.000 serat dan 3.000 serat.

Diameter dan berat kabel optik jenis slot

image

Penampang Kabel Optik Jenis Loose Tube

 

image

Penampang Kabel Optik Jenis Slot

 

image

Konstruksi Kabel Fiber Optic

 

  • Kabel duct
  • Kabel direct buried
  • Kabel aerial
  • Kabel indoor

Konstruksi Jenis Kabel Duct

image

 

Konstruksi jenis kabel direct buried (tanam langsung)

image

 

Konstruksi Jenis Kabel aerial (kabel udara)

image

 

Konstruksi Jenis Kabel Indoor (Kabel dalam gedung/rumah) kapasitas 2-6 Fiber Optic

image

 

Konstruksi Jenis Kabel Indoor (Kabel dalam gedung/rumah) kapasitas 8-12 Fiber Optic

 

image

Fungsi dan bagian-bagian kabel optik jenis loose tube

 

  • Loose tube, berbentuk tabung longgar yang terbuat dari bahan PBTP (Polybuty leneterepthalete) yang berisi thixotropic gel dan serat optik ditempatkan didalamnya. Konstruksi loose tube yang berbentuk longgar tersebut mempunyai tujuan agar serat optik dapat bebas bergerak, tidak langsung mengalami tekanan atau gesekan yang dapat merusak serat pada saat instalasi kabel optik. Thixotropic gel adalah bahan semacam jelly yang berfungsi melindungi serat dari pengaruh mekanis dan juga untuk menahan air. Sebuah loose tube dapat bersisi 2 sampai dengan 12 serat optik. Sebuah kabel optik dapat bersisi 6 sampai dengan 8 loose tube.
  • HDPE Sheath atau High Density Polyethylene Sheath yaitu bahan sejenis polyethylene keras yang digunakan sebagai kulit kabel optik berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi serat optik dari pengaruh mekanis pada saat instalasi. Alumunium tape atau lapisan alumunium ditempatkan diantara kulit kabel.
  • water blocking berfungsi sebagai konduktivitas elektris dan melindungi kabel dari pengaruh mekanis.
  • Flooding gel adalah bahan campuran petroleum, synthetic dan silicon yang mempunyai sifat anti air. Flooding gel merupakan bahan pengisi yang digunakan pada kabel optik agar kabel menjadi padat.
  • PE Sheath adalah bahan polyethylene yang menutupi bagian central strength member.
  • Central strength member adalah bagian penguat yang terletak ditengahtengah kabel optik. f Central Strength Member dapat merupakan: pilinan kawat baja, atau Solid Steel Core atau Glass Reinforced Plastic. Central Strength member mempunyai kekuatan mekanis yang tinggi yang
    diperlukan pada saat instalasi.
  • Peripheral Strain Elements terbuat dari bahan polyramid yang merupakan
    elemen pelengkap optik yang diperlukan untuk menambah kekuatan kabel
    optik. Polyramid mempunyai kekuatan tarik tinggi.

Fungsi dan bagian-bagian kabel

optik jenis slot

 

  • Kulit kabel, terbuat dari bahan sejenis polyethylene keras, berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi serat optik dari pengaruh mekanis saat instalasi.
  • Aluran (slot) terbuat dari bahan polyethylene berfungsi untuk menempatkan sejumlah serat. Untuk kabel optik jenis slot dengan kapasitas 1000 serat, diperlukan 13 aluran (slot) dan 1slot berisi 10 fiber ribbons. 1 fiber ribon berisi 8 serat.
  • Central strength member adalah bagian penguat yang terletak ditengahtengah kabel optik. Central strength member terbuat dari pilinan kawat baja yang mempunyai kekuatan mekanis yang tinggi yang diperlukan pada saat instalasi.

Spesifikasi Kabel Optik

Karakteristik Mekanis :

  • Fibre Bending (tekukan Serat) Tekukan serat yang berlebihan (terlalu kecil) dapat mengakibatkan bertambahnya optical loss.
  • Cable Bending (tekukan Kabel) Tekukan kabel pada saat instalasi harus di jaga agar tidak terlalu kecil, karena hal ini dapat memerusak serat sehingga menambah optical loss.
  • Tensile Strength Tensile strength yang berlebihan dapat merusakan kabel atau serat.
  • Crush atau tekanan yang berlebihan dapat mengakibatkan serat retak / patah, sehingga dapat menaikkan optical loss.
  • Impact adalah beban dengan berat tertentu yang dijatuhkan dan mengenai kabel optik. Berat beban yang berlebihan dapat mengakibatkan serat retak / patah, sehingga dapat menaikkan optical loss.
  • Cable Torsion Torsi yang diberian kepada kabel dapat merusak selubung kabel dan serat.

image

Jumlah fiber pada 6 Loose tube

 

image

Jumlah fiber pada 8 loose tube

 

image

Copper Conductor

 

image

 

image

image

Tanda Pengenal Kabel Optik

Kabel Optik harus diberi tanda pengenal yang tidak mudah hilang yang tertera pada kulit kabel di sepanjang kabel. Adapun tanda pengenal tersebut meliputi :
Nama pabrik pembuat
Tahun pembuatan

Tipe serat optik :

  • SM = Single Mode
  • GI = Graded Index
  • SI = Step Index

Pemakaian kabel optik :

  • D = Duct

 

  • A = Aerial
  • B = Buried
  • S = Submarine
  • I = Indoor

 

Jenis kabel optik :

  • LT = Loose tube

 

 

  • SC = Slotted core
  • TB = Tight Buffered
  • Struktur penguat :
  • SS = Solid Steel Core
  • WS = Stranded Wire Steel
  • GRP = Glass Reinforced Plastic

 

Panjang tanda pengenal kabel termasuk nama pabrik dan tahun pembuatan adalah satu meter.

Contoh: SM-D-LT SS 6-3X2 2Q

image

SMD-LT SS6-3T 2Q, adalah tanda pengenal kabel optik single mode untuk pemakaian duct dengan jenis loose tube, struktur penguatnya Solid State Core, jumlah serat adalah 6 dengan 3 buah loose tube dan juga mempunyai 2 quad kabel tembaga.

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Persyaratan yang dibutuhkan oleh serat optik
adalah :

  • Tidak putus saat gaya rentang (tensile force) bekerja pada serat optik.
  • Tidak mengalami perubahan kualitas perambatan cahaya akibat tekanan dari samping seperti misalnya microbending.
  • Serat optik ditempatkan secara khusus didalam kabel optik.
  • Pada sambungan serat optik harus diberi penguat.

Rugi-rugi Fiber Optic

 

Secara garis besar rugi-rugi yang terjadi diakibatkan oleh :

  • Faktor intrinsik (dari serat itu sendiri).
  • Terjadi karena kabel optik yang diinstalasi.

Rugi-rugi karena serat optik :

  • Penghamburan (scaterring loss)
  • Rayleigh scattering
  • Microbending
  • Core size variation
  • Mode coupling
  • Penyerapan (absorption loss)

Rugi-rugi karena instalasi :

  • Rugi-rugi penyambungan

 

 

  • Fresnel reflection
  • Bengkokan (macro bending).

 

Bersambung ke Versi 01……

Sumber : Knowledge TELKOM 2007

Konsep Dasar Sistem Jaringan Access Fiber Optic

Definisi

Jaringan Akses (access network): Jaringan transmisi antara sentral lokal dan terminal pelanggan.

Blok Diagran Access Network

image

Tipe Jaringan akses berdasarkan teknologinya:
– Jaringan akses berbasis kabel (wireline access)
– Jaringan akses berbasis radio (wireless access)

image

Berbagai teknologi jaringan akses

 

image

JARLOKAF (Jaringan Lokal Akses Fiber)

Adalah sekumpulan jaringan akses yang menggunakan secara bersama suatu antarmuka jaringan dan diimplementasikan menggunakan serat optik.
– JARLOKAF = Optical Access Network (OAN) = Fiber In The Loop (FITL)
Berbagai teknologi Jarlokaf :
– Digital Loop Carrier (DLC)
– Passive Optical Network (PON)
– Active Optical Network (AON)

Teknologi JARLOKAF (Jaringan Lokal Akses Fiber)

 

image

image

image

image

image

image

image

image

Komparasi Konfigurasi Tanpa V5x (Channel Bank), V5.1 dan V5.2

image

Fungsi Masing-masing Komponen Jarlokaf

image

Passive Optical Network

Merupakan sistem jarlokaf yang memiliki topologi jaringan pointto- multipoint (Multiple star).
✔ Untuk membentuk jaringan point-to-multipoint digunakan komponen pencabang pasif (passive splitter).
✔ Diterapkan untuk pelanggan dalam cluster-cluster yang berukuran kecil (4 ~ 120)
✔ Jaringan optik PON dapat digunakan bersama-sama/diintegrasikan untuk jaringan distribusi/ broadcast (CATV).

image

Teknologi JARLOKAF

 

image

image

Modus Aplikasi, sistem jarlokaf setidaknya memiliki 2 perangkat opto elektronik, 1 di sisi sentral, 1 di sisi pelanggan. Lokasi perangkat tersebut di sisi pelanggan disebut Titik Konversi sinyal Optik (TKO).
• Berdasarkan perbedaan letak TKO:
– Fiber To The Building (FTTB)
– Fiber To The Zone (FTTZ)
– Fiber To The Curb (FTTC)
– Fiber To The Home (FTTH)

Fiber To The Building

 

  • TKO terletak di dalam gedung dan biasanya di ruang telekomunikasi di basement.
  • Terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga indoor atau IKR.
  • FTTB dapat dianalogikan sebagai Daerah Catu Langsung (DCL).
  • Dapat diterapkan bagi pelanggan bisnis di gedung bertingkat atau pelanggan di apartemen.

image

image

image

Fiber To The Zone

  • TKO terletak di suatu tempat di luar bangunan, baik dalam kabinet dengan kapasitas besar.
  • Terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga hingga beberapa kilometer.
  • FTTZ dapat dianalogikan sebagai pengganti RK.
  • Diterapkan pada daerah perumahan yang letaknya jauh dari sentral atau bila infrastruktur duct pada arah yang bersangkutan, sudah tidak memenuhi lagi untuk ditambah dengan kabel tembaga.

image

Modus Aplikasi FTTZ

image

Fiber To The Curb

  • TKO terletak di suatu tempat di luar bangunan, di dalam kabinet dan di atas tiang dengan kapasitas lebih kecil (< 120 sst).
  • Terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga hingga beberapa ratus meter.
  • FTTC dapat dianalogikan sebagai pengganti KP.
  • FTTC dapat diterapkan bagi pelanggan bisnis yang letaknya terkumpul di suatu area terbatas namun tidak berbentuk gedung bertingkat atau bagi pelanggan perumahan yang pada waktu dekat akan menjadi pelanggan jasa hiburan.

image

image

Fiber To The Home

  • TKO terletak di dalam rumah pelanggan.
  • Terminal pelanggan dihubungkan dengan TKO melalui kabel tembaga indoor atau IKR hingga beberapa puluh meter.
  • FTTH dianalogikan sebagai pengganti TB (Terminal Batas).

image

image

Konfigurasi single star (P to P)

Jarlokaf yang memiliki satu buah titik star kabel yaitu pada perangkat Jarlokaf di sisi sentral.

image

Konfigurasi Multiple Star

Adalah jarlokaf yang memiliki lebih dari satu buah titik star kabel serat optik (P to P dan P to M)

image

KONFIGURASI RING KABEL

MEMBENTUK JARINGAN MELINGKAMEMBENTUK JARINGAN MELINGKAR.
➮ UNTUK MENINGKATKAN KEANDALAN JARINGAN.
➮ UNTUK PROTEKSI TERHADAP POINT-TO-POINT LINK.

image

KONFIGURASI RING SDH (1)

  • MEMBENTUK JARINGAN MELINGKAMEMBENTUK JARINGAN MELINGKAR.
  • UNTUK MENINGKATKAN KEANDALAN JARINGAN.
  • UNTUK PROTEKSI TERHADAP POINT-TO-POINT LINK.
  • DENGAN RING SDH (ADM) MENGHEMAT KABEL SERAT OPTIK.

image

KONFIGURASI RING SDH (2)

  • MEMBENTUK JARINGAN MELINGKAMEMBENTUK JARINGAN MELINGKAR.
  • UNTUK MENINGKATKAN KEANDALAN JARINGAN.
  • UNTUK PROTEKSI TERHADAP POINT-TO-POINT LINK.
  • DENGAN RING SDH (ADM) MENGHEMAT KABEL SERAT OPTIK.

image

Sumber : Knowledge TELKOM 2007

Planning and Design OPTICAL ACCESS NETWORK

Perencanaan Jaringan Lokal Akses Fiber Optic

Perencanaan adalah proses untuk mengembangkan dan mempertahankan kesesuaian yang layak antara sasaran, keahlian dan sumber daya.

Prosedur perencanaan :

image

Tahapan Kegiatan Perencanaan Jaringan Lokal Access Fiber

Survei Demand dan Olah data
a. Peramalan Jenis Layanan
b. Peramalan Jumlah Satuan Sambungan

Perhitungan Demand
a. Metode Makro
b. Metode Mikro

Metode Ekonomi Makro

 

image

image

 

Metode Ekonomi Mikro

 

image

image

Penentuan Teknologi

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penentuan teknologi :

  • Klasifikasi pelanggan, pelanggan dikelompokkan sebagai pelanggan perumahan, bisnis, industri dan fasilitas umum.
  • Letak geografis, yaitu apakah terkonsentrasi atau tersebar.
  • Kebutuhan jumlah satuan sambungan.
  • Kebutuhan ini akan sangat berpengaruh terhadap kapasitas perangkat yang akan digunakan.
  • Kebutuhan jenis service dan Kemampuan teknologi. Hal ini akan mempengaruhi pemilihan jenis teknologi. Kebutuhan jenis service harus disesuaikan dengan waktu perencanaan.
    Teknologi yang dapat diterapkan dalam Jarlokaf sampai saat ini adalah sebagai berikut :
  • Digital Loop Carrier (DLC)
  • Passive Optical Network (PON)
  • Synchronous Digital Hierarchy (SDH)

image

image

image

Konfigurasi Jaringan Jarlokaf

Konfigurasi dasar jaringan yang dapat dipergunakan pada Jarlokaf adalah :
• Konfigurasi Single Star
Konfigurasi Single Star hanya memiliki satu titik star pada sisi sentral seperti gambar 12.a dan 12.b.
Teknologi Jarlokaf yang dapat menggunakan konfigurasi ini adalah DLC.
• Konfigurasi Triple Star
Konfigurasi Triple Star memiliki tiga titik star. Contoh teknologi yang digunakan adalah DLC.
• Konfigurasi Multiple Star
Konfigurasi Multiple Star memiliki lebih dari satu titik star pada kabel serat optik. Teknologi yang dapat digunakan adalah OAN dan PON.
• Kombinasi dengan Ring
Kombinasi dengan Ring digunakan untuk meningkatkan kehandalan sistem. Kombinasi dengan Ring dapat berupa penerapan ring kabel atau ring SDH dan teknologi yang dapat digunakan adalah DLC ataupun OAN.

image

Penentuan Batas Daerah Pelayanan

Batas daerah pelayanan Remote Terminal ditentukan oleh faktor-faktor :

  • Jarak maksimum pelanggan yang akan dilayani disesuaikan dengan jenis layanan yang dapat diberikan.
  • Daerah pelayanan dapat berupa kawasan yang terkonsentrasi ataupun tersebar.

Pemilihan dan Penempatan Perangkat Utama

Lokasi Central Terminal

  • Ditempatkan sedekat mungkin dengan sistem catu daya.
  • Temperatur ruangan dimana perangkat diletakkan harus diatur
  • Tersedianya perlengkapan operasi dan pemeliharaan yang baik.

Lokasi Remote Terminal
Persyaratan penempatan RT :

  • Panjang kabel penanggal untuk menjangkau pelanggan dalam daerah pelayanan RT relatif pendek.
  • Penempatan RT sebisa mungkin berada di tengah-tengah daerah pelayanan untuk mendapatkan jangkauan optimum.
  • Pada gedung yang bertingkat, perangkat RT dapat ditempatkan di basement atau di setiap lantai dengan mempertimbangkan kemudahan dalam menyediakan supplai daya, instalasi, operasi dan pemeliharaan.
  • Posisi RT harus aman dari gangguan.

Penyusunan Rancangan Dasar dan Rancangan Rinci

  • Penyusunan rancangan dasar adalah gambaran umum jaringan yang akan dibangun pada daerah layanan STO.
  • Penyusunan rancangan rinci adalah gambar rute jaringan berdasarkan penentuan tempat yang sesuai untuk menempatkan :
  • Perangkat/sentral
  • Jarak antara sentral dengan pelanggan.
  • Total panjang kabel optik.
  • Kebutuhan core yang digunakan dalam perencanaan jaringan fiber optic.

image

image

image

Bill of Quantity / Quantification

 

Secara umum dapat diuraikan sebagai berikut :

  • Perhitungan material dan volume kerja dilakukan setelah rancangan dasar dan rancangan keseluruhan.
  • Perhitungan dilakukan berdasarkan gambar yang disetujui.
  • Hasil dari proses perhitungan ini dilengkapi bill of quantity.
  • Bill of quantity mencakup semua jenis material selain material utama, material tambahan atau perangkat/peralatan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan.
  • Bill of quantity digunakan sebagai dasar estimasi biaya proyek dan perkiraan cakupan kerja.

ANTARMUKA (INTERFACE) JARLOKAF V 5.1

Antarmuka V 5.1 menggunakan arsitektur lapisan 1 G.703.
• Antarmuka V 5.1 dirancang untuk mendukung jasa :
–   PSTN
–   BRA-ISDN
– Leased Channel Permanent (sirkit sewa permanent) maupun semi permanen.

image

ANTARMUKA (INTERFACE) JARLOKAF V 5.2

  • Antarmuka V 5.2 sebagai pengembangan dari antarmuka V 5.1 menggunakan multilink.
  • Antarmuka V 5.2 dapat mendukung aplikasi POTS, ISDN-BRA, ISDN-PRA dan Leased Line.

image

image

Traffic Pelayanan Telekomunikasi

 

image

Waktu Pendudukan

image

image

image

Manajemen Proyek

Jaringan kerja adalah suatu alat bagi manajemen untuk :

  • Merencanakan proyek sehingga sasaran dalam ukuran waktu dan sumber daya dapat dievaluasi.
  • Mengendalikan proyek yang sedang dilaksanakan dan segera mengambil tindakan apabila ada penyimpangan.
  • Memperlancar komunikasi antara berbagai departemen atau bagian dan perusahaanperusahaan yang ada kaitannya dengan proyek.
  • Memelihara disiplin organisasi dengan menetapkan cara-cara kerja secara tegas.
  • Meningkatkan kualitas rencana proyek dan pelaksanaannya

Menyusun Jaringan Kerja Proyek

  • Menetapkan sasaran proyek yang akan dilaksanakan.

 

  • Uraikan proyek tersebut dalam bentuk pekerjaan-pekerjaan atau aktivitas aktivitas.
  • Buat diagram panah.

 

image

A. Aktifitas  (1-2) ; B & C  Aktifitas Paralel  (2-3); (2-4) ; Aktifitas paralel D-E (3-5); (4-5)

 

 

Jenis Proyek yang Menggunakan Jaringan Kerja

  • Proyek kontruksi
  • Riset dan pengembangan
  • Proyek-proyek pemerintah
  • Perawatan atau pekerjaan overhaul dalam pabrik.
  • Memperkenalkan produk baru.
  • Bidang bisnis yang lainnya.

Crash Cost atau Biaya Kilat

Tujuannya adalah untuk menyelesaikan pekerjaan secara cepat dengan kualitas yang sama sehingga akan mengakibatkan penambahan pengeluaran biaya.

image

Perubahan Jadwal Network Planning

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk perubahan jadwal proyek :
• Perhatikan Biaya Normal dan waktu keseluruhan proyek.
• Tentukan lintasan kritisnya.
• Tentukan kegiatan yang dapat dipersingkatan dan yang dapat memberikan biaya perubahan minimal.
Perubahan untuk Crash dapat dilakukan pada aktivitas 2-3 dimana terjadi pengurangan waktu selama maksimum 2 minggu dan terjadi penambahan biaya.

image

Pekerjaan Sipil

Pekerjaan sipil yang dilakukan berdasarkan No. CL3004 dan MH-2001.
• Sistem Duct
# Sistem duct untuk kabel utama
# Concrete Duct terdiri dari pipa PVC dimana diameter dalam pipa 100 mm dengan ketebalan 2 mm dan Semi duct (compact sand) terdiri dari pipa PVC dengan diameter dalam pipa PVC adalah 100 mm serta ketebalan 5,5 mm.
Ditanam langsung ke tanah dan ditekan dengan pasir. Apabila kedalaman duct dilokasi tidak cukup (dangkal) maka pipa plastik dilapisan atas duct dapat diganti dengan pipa besi. Jarak antara Manhole untuk rute lurus maximum 400 m dan rute berbelok maximum 100 m.
# Rute duct dipilih berdasarkan hasil survei lapangan, data perencanaan kota, dan data lain yang relevan.
# Jumlah pipa duct
dimana : N = Jumlah kabel utama yang dibutuhkan untuk 20 tahun 1.5 = Faktor pengamanan untuk pertambahan pelanggan
Pipa cadangan
Jumlah pipa 1 – 15 dengan 1 pipa cadangan
Jumlah pipa 16 – 30 dengan 2 pipa cadangan
Jumlah pipa 31 – 45 dengan 3 pipa cadangan
Jumlah pipa > 46 dengan 4 pipa cadangan
# Duct harus diletakkan di sisi jalan. Apabila duct akan diletakkan di jalan maka harus ditanam lebih dalam dengan kedalaman :
• Di DKI Jakarta
Disisi jalan kedalamannya 1,1 m dari permukaan tanah sampai atas duct dan kedalaman untuk di jalan 1,3 m dari permukaan tanah sampai atas duct
• Diluar Jakarta
Disisi jalan kedalamannya 0,8 m dari permukaan tanah sampai atas duct dan kedalaman untuk di jalan 1 m dari permukaan tanah sampai atas duct
Number of pipes = (1.5 x N) + reserve.

image

Manhole (MH)

MH dibuat untuk meletakkan :
• Cable jointing closure
• Cable branching closure
MH harus memiliki ruang yang cukup untuk meletakkan :

Duct

• Pekerja (1 atau 2 orang)
• Jointing and branching closure
• Handhole (HH)
– HH akan diletakkan dekat cabinet, rute antara MH dan cabinet, dan disisi jalan.
– HH akan digunakan untuk meletakkan jointing closure antara cable stub dari cabinet dengan kabel utama dan secondary cable.
– HH dapat dibangun di tempat atau sebelum fabrikasi dan membuat concrete, ini hanya satu jenis dengan ukuran sebagai berikut :
• Panjang bagian terluar : 1,80 m ; Bagian dalam : 1,50 m
• Lebar bagian terluar : 1,20 m ; Bagian dalam : 0,90 m
• Tinggi bagian terluar : 1,51 m ; Bagian dalam : 1,31 m.

Konfigurasi Jaringan Access Fiber

• Pertimbangan ketika Membuat Konfigurasi
Konfigurasi jaringan dibuat berdasarkan pertimbangan berikut :
– Pertimbangan Teknik
• Transmision and signal requirement’s limit
• Compact and well managed unit group
• Sequencial cable pair alocation to avoid crossing
– Pertimbangan Ekonomi
• Save the used of connector, jointing closure, cable, etc.
• Save unnescessary additional work cost.
– Pertimbangan Administrasi agar mudah mencatat jaringan kabel.

• Pembagian Konfigurasi Jarlokaf
Konfigurasi Jarlokaf dapat dibagi atas 2 jaringan :
– Primary network, jaringan antara OLT dan PS.
– Secondary network, jaringan antara PS and ONU.

image

image

Jadwal Perencanaan/Time Frame

Berdasarkan pertimbangan Teknik dan Ekonomi (biaya awal, konstruksi, life time
perangkat, dll), jadwal perencanaan/time frame untuk setiap bagian jaringan Jarlokaf yang diuraikan dalam tabel 9 berikut :

image

Sumber : Knowledge TELKOM 2007

TELKOM INDONESIA meluncurkan layanan baru Internet Protocol Television (IPTV)

Apa yang dimaksud dengan IPTV?

IPTV Layanan IPTV adalah suatu pengembangan layanan TV berbasis IP yang mem-broadcast video yang berkualitas tinggi melalui jaringan broadband.

IPTV

Apa yang dimaksud dengan layanan Triple Play?

 Layanan Triple Play adalah layanan Voice, Video dan Internet dibroadcast melalui jaringan broadband. Jadi IPTV adalah salah satu dari layanan berbasis video/TV yang menggunakan teknologi IP yang dibroadcast melalui jaringan broadband.

Apa yang dimaksud dengan IPTV Customer Device ?

IPTVCD adalah komponen kunci dalam memberikan layanan IPTV kepada para subscriber. IPTVCD terhubung ke jaringan broadband dan bertanggung jawab untuk melakukan decoding (pengkodean) dan processing (pemrosesan) aliran video berbasis IP yang datang. Contoh dari IPTVCD adalah IP set-top boxes, game console, dan home gateway.

image

Apa yang dimaksud dengan Head-end?

 

Head End atau sering juga disebut IPTV data center menerima content layanan TV dari bermacam sumber antara lain: local video, content eggregator, content produser, kabel terrestrial atau channel-channel satelit.
Untuk menyediakan video content melalui jaringan berbasisi IP maka perlu

Di Indonesia seperti halnya di negara-negara maju seperti Korea, Hong Kong, Jepang bahkan tetangga dekat Indonesia seperti Singapore dan Malaysia. Kehadiran IPTV ini ditandai dengan keluarnya ijin Penyelenggaraan Layanan Televisi Protokol Internet yang ditetapkan oleh Menteri Kominfo Muhammad Nuh. Ijin No. 30/PER/M.KOMINFO/8/2009 tentang Penyelenggaraan Layanan Televisi Protokol Internet (Internet Protocol Television/IPTV) ini memberikan kepastian hukum bagi operator ataupun ISP yang berencana untuk memberikan layanan IPTV bagi pelanggan.

Layanan IPTV memungkinkan siaran televisi dikirimkan menggunakan Internet Protokol (IP). Dengan menggunakan IP, IPTV memberikan banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh kabel TV biasa. Kelebihan dari IPTV antara lain adalah kualitas gambar yang prima karena gambar di IPTV adalah gambar digital. Selain gambar dengan Standard Definition (SD) ada juga gambar yang jauh lebih tajam dengan kualitas High Definition (HD).
Kelebihan lain dari IPTV yang tidak dimiliki pay TV ataupun siaran TV biasa adalah kemampuan untuk menayangkan layanan interaktif seperti saat kita sedang ke toilet ataupun menerima telpon, pertandingan sepakbola Mancherster United lawan Arsenal bisa di Pause atau rewind sehingga setelah kembali dari menelpon ataupun toilet kita bisa melanjutkan tontonan atau menonton ulang. Sinetron favorit 3 jam yang lalupun bisa ditonton apabila karena terjebak macet belum sampai di rumah.


Selain itu banyak lagi layanan-layanan interaktif lain yang dapat disediakan dengan IPTV seperti Video On Demand, Karaoke on Demand, Games on Demand, Home Shopping, dan Home Delivery. Dengan IPTV pemirsa tidak perlu pergi jauh-jauh ke Glodok mencari film, games ataupun karaoke tinggal memilih dari katalog yang ada di server dan langsung dapat dimainkan di layar televisi dengan biaya yang terjangkau. Layanan diharapkan dapat menjadi suatu lifestyle baru yang dapat meningkatkan keakraban keluarga di rumah.
Home delivery, misalnya memungkinkan pemirsa untuk memesan, membayar dan makan Pizza tanpa perlu beranjak dari sofa sambil menonton TV.  Pizza akan dikirimkan ke rumah dan pembayaran dilakukan dengan kartu kredit. Layanan ini sangat nyaman dan diperlukan di kota besar terlebih menghadapi jalan di Jakarta yang semakin macet. Semua layanan interaktif ini di negara maju sudah menjadi sarana hiburan sehari-hari. Di Korea misalnya saat sinetron Korea sedang diputar, maka pemirsa dapat langsung membeli baju yang dikenakan pemain sinetron, membayar dengan kartu kredit dan baju akan diantar ke rumah. Bisa dibayangkan nantinya sinteron Cinta Fitri misalnya ditayangkan dan pemirsa Indonesia dapat langsung membeli baju yang yang dikenakan oleh Shireen Sungkar misalnya.

IPTV 1

Di China, permainan Games On Demand dilakukan online dengan lawan dari berbagai lokasi dan ada komentatornya bak pertandingan sepak bola. Komentator akan mengulas permainan para pemain dan memberikan tips-tips untuk dapat memenangkan games yang sedang dimainkan. Karaoke on Demand pun ada juga komentatornya sehingga sangat interaktif dan menarik.
IPTV yang semula adalah layanan mewah yang menyasar masyarakat kelas atas di luar negeri, perlahan-lahan menjadi suatu layanan massal ketika produk ini menjadi isu hangat didukung berbagai media massa di negara tersebut. IPTV sebentar lagi bukan jadi layanan mewah di Indonesia yang hanya tersedia di jaringan lokal atau lab, namun sudah bisa dikembangkan untuk dinikmati masyarakat di Indonesia. Beberapa operator sudah siap menggelar layanan IPTV di Indonesia termasuk Telkom yang dalam waktu dekat akan menggelar layanan IPTV di beberapa di kota-kota besar di Indonesia.


IPTV diharapkan akan melayani lebih banyak pelanggan terutama yang tinggal di apartment dan residensial serta menjangkau daerah-daerah potensial di Indonesia. Jika ini terjadi, dapat dipastikan layanan ini dapat merubah gaya hidup kita yang mendorong terciptanya budaya baru bagi keluarga dan masyarakat Indonesia.
Tak dapat dipungkiri teknologi kini semakin memanjakan pengguna mulai dari phonebook yang membuat kita malas menggunakan memory otak sendiri untuk mengingat nomor-nomor penting, I Phone bahkan semakin membuat malas dengan kemampuan touch screennya hingga yang akan segera hadir, IPTV yang memungkinkan makanan, baju, laptop dll dikirimkan hingga ke depan pintu rumah

Meskipun demikian layanan IPTV yang akan digelar untuk trial ini adalah paket-2 yaitu layanan internet & IPTV.
Secara umum layanan IPTV dapat dikategorikan menjadi atas 3 yaitu : Servis TV, video yang dipancarkan dalam waktu yang terjadwal, persis layanan TV konvensional. Pengembangan servis ini, bisa dengan membuat kanal-kanal yang khusus, misalnya, khusus memasak, khusus olahraga dll.
Service VoD, Video yang dihantarkan ke pelanggan sesuai pilihan mereka. Personal Video Recorder (PVR), Alat perekam yang akan merekam siaran untuk diputar dilain waktu. Network Personal Video Recorder (NPVR), versi jaringan dari PVR, NPVR tidak mesti ditempatkan di rumah pelanggan. Electronic Program Guide (EPG), layanan yang memberikan info program-program eksisting dan program-program kedepan dari layanan.

Information Services, layanan bersifat informasi, berita, laporan cuaca dll. Interactive TV, TV Show, dimana pelanggan bisa interaktiv. Interactive Applications, permainan yang dapat dideliver dengan mode broadcast, namun memanfaatkan kelebihan sifat interaktifnya. Permainan dapat berupa singleplayer atau mulitplayer antar pelanggan. Broadband Applications, video conferencing, e-Learning, dan security monitoring.

Daerah mana sajakah yang dapat dilayani IPTV?
Daerah-Daerah yang dapat dilayani IPTV antara lain :
1. Jakarta
2. Bandung
3. Semarang

Sumber ; TELKOM